Ini naskah saya yang sempat terpilih sebagai juara harapan 1 kategori umum pada lomba karya tulis pemuda tingkat nasional dengan tema kepemimpinan pemuda oleh MENPORA didukung oleh FLP pada bulan oktober 2008.
PEMUDA “PEMIMPI” DAN PEMIMPIN “MUDA”
LOKOMOTIF KEPEMIMPINAN INDONESIA
Lukisan kalbu Kami
Telah kau goreskan sketsa-sketsa peradaban
Mungkin namamu tak semasyhur pengabdianmu
Namun “pengabdian” itu telah menjadi saksi
Bahwa……………
Jiwa, raga, semangat, pengorbanan
Dan begitu banyak kobaran terpatri dalam kesucian jejakmu
Kau alirkan bersama sungai nasionalisme yang tak pernah redup.
Kau bangun asa, asa dan asa
Entah! Berapa banyak asa kau tata
Berapa banyak konsep kau desain
Berapa banyak arsitek kau bangun
Untuk sebuah lanskap kokoh bernama Indonesia
Kini………………
Monumen sejarah terus kau teropong
Bersama potret kemarin, kini dan esok.
Perjuanganmu tak pernah henti , entah sampai kapan……
Merangkai sebuah kata “ untukmu pertiwiku”
(Sebuah goresan untuk pemuda Indonesia oleh penulis)
Resonansi petikan bait-bait yang disisipkan seorang negarawan sekharismatik Soekarno jelas terpatri kuat dalam jiwa setiap anak bangsa, kalau ada slogan “ bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya ” maka sudah sepatutnya perkataan, sikap dan tindakan pahlwan senantiasa menjadi rujukan bagi kaum muda dalam mengemban estafet perjuangan dari masa ke masa. Tatkala Soekarno dengan lantang menyerukan “ berikan Aku 10 pemuda akan kuubah dunia” .Seruan dahsyat yang mampu membangkitkan energi, menggugah jiwa untuk kemudian berkontemplasi bahwa begitu berartinya sosok pemuda, menjadi investasi yang tidak ternilai dalam mengusung cita-cita perjuangan.
Pemuda sebagai pelopor pertama dan utama, peranannya sangat strategis dalam pergerakan setiap perubahan, eksistensi mereka sangat diperhitungkan.sehingga perubahan sesuatu karena pemuda dan pemuda untuk mengubah sesuatu, begitu istimewanya pemuda ibarat ruh yang akan menghidupkan perjalanan panjang sebuah bangsa, melintasi zaman, gerak dan cita-cita perjuangannya.
Rekaman sejarahpun menjadi saksi bahwa pemuda sebagai lokomotif perubahan, ketika Indonesia menggagas semangat kebangkitan pada tahun 1908 kemudian memupuk jiwa nasionalisme kebangsaan pada tahun 1928 sebagai titik awal kemerdekaan, muncul tokoh-tokoh muda seperti Dr.Wahidin Sudirohusodo,Soetomo, Gunawan, Sugondo Joyopuspito, Muh.Yamin, Abu Hanafia, W.R Supratman, Sukarjo Wiryopranata, Kuncoro Purbopranoto,dan M.H Tamrin,yang berada digaris depan, pemuda-pemuda ini tentu memiliki mimpi-mimpi besar untuk memperjuangkan kemerdekaan, bahkan ketika kemerdekaan secara de facto dideklarasikan tidak terlepas dari skenario pemuda. Konteks kepemudaan selalu menjadi topik menarik untuk dibahas meskipun tidak menutup kemungkinan ada realita lain yang menggejala dibalik sosok seorang pemuda diluar tipikal pemuda pemimpi tersebut, terlepas dari fenomena itu dalam tulisan ini lebih dititik tekankan pada pemuda “pemimpi”, mimpi disini tentu bukan sembarang mimpi tetapi seorang yang memiliki orientasi terarah dan positif untuk perubahan kearah yang lebih baik, memiliki blue print (cetak biru) kehidupan yang matang dalam merencanakan kehidupannya. Baginya setiap waktu sangat berharga untuk merealisasikan mimpi-mimpinya. Sikapnya jelas terlihat melebihi kebiasaan dalam menentukan arah kemajuan.
Seorang “pemimpi” memiliki “kompas” bagi kehidupannya akan bagaimana dan seperti apa target yang dirancang, sangat terencana dengan baik. Target ini tentu tidak terlepas dari hasil proses pembelajaran dalam kehidupan bukan saja pembelajaran dalam konteks formal tetapi lebih dari itu tempaan pembelajaran alam yang memberikan makna pada hidup dan kehidupan. Makna positif thinking dikedepankan, bahkan tidak jarang harus berlari cepat mengasah ketajaman nuraninya agar semakin menciptakan lompatan-lompatan berarti bagi mimpi-mimpi dimasa depan. Proses ini tidak lahir secara instant, ada daya dorong dan gerak untuk mewujudkan dalam tindakan nyata, ditopang oleh kepekaan, ketekunan, ketelitian, kekritisan, dan kreatifitas, dengan mengambil analogi segi tiga ada garis-garis gradien yang tidak luput dari perhatian, semua titik harus dilengkapi agar mampu membentuk segi tiga sempurna, jika kita mengambil garis datar maka titik-titik searah itu sebuah proses pembelajaran,sedangkan titik teratas ada sebuah proses membangun pembelajaran kita dengan mengasah kekuatan hubungan dengan Sang Pencipta, pada titik teratas ini merupakan titik pergerakan, dan daya dorong untuk sebuah kekuatan besar menjadi mimpi-mimpi nyata.
Bangunan berpikir seorang “pemimpi” adalah perubahan, terkait dengan perubahan tersebut tentu lingkungan pendidikan keluarga menjadi salah satu karakter lingkungan yang perlu dibangun untuk mendukung sebuah perubahan, diantaranya ada 3 komponen karakter baik yaitu:
1. Moral Knowing (Pengetahuan tentang moral)
2. Moral Feeling (Perasaan tentang moral)
3. Moral action
Hal ini diperlukan agar mampu memahami, merasakan sekaligus mengerjakan nilai-nilai positif. Untuk memahami apa yang mendorong seseorang dalam perbuatan yang baik (art morally) maka harus dilihat 3 aspek lain dari karakter yaitu: kompetensi (competense), Keinginan (will)dan kebiasaan (Habit). Seorang “pemimpi” selalu diinspirasi oleh kebaikan dan pandangan komprehensif tentang perubahan dan kemanfaatan bagi banyak orang sehingga mampu melakukan sesuatu yang terbaik diluar hitungan-hitungan matematis pemuda yang bukan “pemimpi”.Meminjam istilah iklan “ Berani Beda” maka “pemimpi” akan berani melakukan inovasi-inovasi untuk sebuah perubahan besar.
PEMIMPIN “MUDA”
Wacana pemimpin “muda” menjadi tema yang banyak diwacanakan oleh berbagai kalangan, cukup beralasan mengingat tipikal kaum muda yang berani, energik, sportif, idealis, pembaharu menjadi catatan tersendiri dalam referensi kepemimpinan bangsa. “Muda” berarti baru dalam arti proses-proses regenerasi berjalan dengan baik, namun tidak kemudian diinterpretasi bahwa kita tidak membutuhkan kaum tua, akan tetapi secara substansi dalam konteks kebangsaan tua dan muda selalu menjadi patner, untuk bersama-sama memikirkan dan melahirkan karya-karya besar untuk bangsanya. Kontes kaum muda belum teruji oleh berbagai pengalaman sejarah kalaupun diuji masih pada taraf “embrio” , namun patut digaris bawahi kaum muda bisa beradaptasi secara cepat dan belajar cepat, sedang kaum tua sudah kenyang oleh pengalaman sejarah sehingga pengalaman itu merupakan fase pemberdayaan dengan cara mentransfer kepada kaum muda sebagai penerus perjuangan.
Idealnya wacana pemimpin muda harus terus didukung,sebab lewat pemimpin muda akan terjadi metamorfosis sejarah perubahan dan regenerasi yang lebih optimal. Peran-peran pemberdayaan berjalan dengan baik,dan tidak dikungkung oleh simbol figuritas yang hanya akan “memandulkan” iklim kepemimpinan dan “simbol-simbol”,yang pada akhirnya akan menghasilkan gaya pengkultusan, kita tidak boleh hanya terjebak pada konteks pengalaman kepemimpinan namun hal yang lebih penting bagaimana kemudian pengalaman tersebut mampu ditransformasi dalam bentuk-bentuk perubahan yang berkesinambungan dan berdayaguna. Pemuda tampil membawa peran, bukan mencari peran, ditangan pemimpin muda diharapkan tercipta grand design bangsa dalam team yang terkoordinasi dengan solid berkat kegigihan kaum muda untuk berubah.
Seorang pemimpin sudah pasti juga seorang “pemimpi” karena seorang pemimpin dituntut melakukan terobosan-terobosan baru, dan hal itu hanya bisa dilakukan oleh tipikal yang cenderung berubah, kreatif dan menginginkan sesuatu yang berbeda. Beberapa contoh pemimpin dunia menggoreskan sejarah bangsanya banyak diprakarsai oleh pemimpin yang terbilang muda, sebut saja Mahatma Gandhi seorang tokoh politik muda anti kolonialis yang sangat fenomenal di India, karena menawarkan suatu gerakan perubahan alternatif (swadeshi), hal yang sama juga terjadi saat Mao Ze Dong muncul sebagai tokoh muda partai dengan konsep longmarchnya, juga perubahan sejarah di duniapun banyak digoreskan oleh pemimpin-pemimpin pembaharu yang dipelopori oleh kaum muda.
Pemimpin muda harus diapresisasi sebagai langkah mempercepat perubahan-perubahan, ketika wacana muda menjadi referensi maka itu artinya ada sederet variabel yang menjadi fokus perhatian, diantaranya kompeten dalam intelektualitas, dan tentu memiliki karakter. Kaum muda harus mampu menjalani serangkaian proses perubahan karakter atau transformasi internal dalam diri sehingga kapabel dalam kepemimpinan, hal ini butuh proses panjang agar mampu menjadi orang muda yang berjiwa “pemimpi” dan pemimpin sejati. Interval usia bukanlah hal yang dipolemikan tetapi memberi dukungan dan kepercayaan penuh dalam upaya-upaya mengantarkan kaum muda lebih semangat memaknai proses-proses membangun karakter merupakan wujud dan kepedulian kita terhadap bangsa dimasa depan.
Harapan kita sudah pasti bahwa modal utama kaum muda memiliki idealisme, energik, kreatif, dan pembaharu berpotensi melahirkan pemimpin sejati , ketika seorang filsuf Cina Lao Tsu, ditanya muridnya tentang siapakah pemimpin yang sejati itu? Lao Tsu menjawab : “as for the best leaders, the people do not notice their existence. The next best, the people honour and praise. The next, the people fear, and the next the people hate. When the best leader’s work is done, the people say, & lsquo;we did it ourselves&rsquo”. Kata kunci yang bisa dimaknai bahwa pemimpin sejati adalah seorang pemberi semangat, motivator, inspirator, dan optimal dalam berkarya. Kepemimpinan sejati adalah kepemimpinan yang didasarkan pada kerendahan hati. Penulis buku terkenal Kenneth Blanchard, mengatakan bahwa kepemimpinan dimulai dari dalam hati dan keluar untuk melayani mereka yang dipimpinnya. Perubahan karakter adalah segala-galanya bagi seorang pemimpin sejati. Tanpa perubahan dari dalam, tanpa kedamaian diri, tanpa kerendahan hati, tanpa adanya integritas yang kokoh, daya tahan menghadapi kesulitan dan tantangan, visi dan misi yang jelas, seseorang tidak akan pernah menjadi pemimpin sejati.
Menilik kepemimpinan sejati maka ada rumusan kepemimpinan yang bisa dijadikan panduan yang dikenal dengan kepemimpinan Q, yang memiliki 4 makna yaitu :
1. Q berarti kecerdasan atau intelligence (seperti dalam IQ & ndash;kecerdasan intelektual, EQ & ndash; Kecerdasan emosional dan SQ & ndash; kecerdasan spiritual.
2. Q leader berarti kepemimpinan yang memiliki quality , baik dari aspek visioner maupun dari aspek manajerial.
3. Q leader berarti seorang pemimpin yang memiliki qi (dibaca ‘ chi’– bahasa mandarin yang berarti energi kehidupan)
4. Q sebagai qolbu atau inner self. Seorang pemimpin sejati memiliki kalbu yang termanage dengan baik, serta bersungguh-sungguh mengendalikannya.
Pemimpin Q berarti seorang pemimpin yang selalu belajar dan berproses untuk mencapai visi dan misi membawa perubahan bagi bangsa dalam lingkup luas, dilandasi oleh suatu sikap disiplin yang tinggi untuk senantiasa berproses, belajar dan berkembang baik secara internal, maupun dalam hubungannya dengan orang lain, seperti yang dikatakan oleh Jhon Maxwell: &rdquo: the only way that I can keep leading is to keep growing.The day I stop growing, somebody else takes the leadership baton. That is the way it always it.&rdquo.satu-satunya cara agar saya tetap menjadi pemimpin adalah saya harus senantiasa bertumbuh. Ketika saya berhenti bertumbuh , orang lain akan mengambil alih kepemimpinan tersebut. Tekad untuk senantiasa berubah dan berkembang identik dengan jiwa kaum muda, sehingga peran-peran kepemimpinan banyak dititipkan ke pundak mereka. Pepatah Arab senantiasa mengingatkan kita bahwa “ Syababunal yaul rijalunal ghad”artinya : pemuda sekarang adalah para pemimpin dimasa depan, maka upaya melakukan yang terbaik dalam mengemban lokomotif perubahan merupakan kunci dalam membawa bangsa menuju bangsa yang maju, dan berkeadilan sosial sebagai cita-cita luhur bangsa. Cukuplah kata-kata Jhon F Kennedy menginspirasi bahwa“jangan bertanya apa yang diberikan negara kepadamu, tapi bertanyalah apa yang bisa kau berikan ke negara”, kalau ini bisa kita jadikan sebagai daya dorong, maka tidak ada kata berhenti untuk belajar, berkarya, memupuk kreativitas, kedisiplinan, dan mengasah spritulitas sebagai kekuatan dalam melanjutkan amanah peradaban sehingga lokomotif perubahan berjalan lebih kencang dari yang semestinya, bangkitlah selalu pemimpin muda, harapan itu selalu ada, bagimu pertiwiku sambutlah karya besar kami lewat tangan-tangan muda yang berjiwa besar.
SUMBER RUJUKAN
Bungsoe. 2007.” Figure pemimpin yang ideal.” Available from URL :http://sekar.telkom.co.id



udah mulai terkonstruk….mindsetnya udah bisa diajak diskusi tingkat tinggi..hehehe
He he bisa aja lagi proses belajar kok, ganbatte:-)
bagussss banget jill blh minta gambarx kan????
thanks
Silahkan aja dikopi, tapi maaf sebagai info gambar tsb juga dikopi tp lupa sumbernya.
lukisan ini sangat bagus untuk di lihat
bagaimana cara memikir kan lukisan mu itu
dimana tepat mengambil gambar yg ada ailukisan itu
@Rangga, maaf banget kalau lukisan ini saya lupa sumbernya, lukisan ini hasil kopian dari sumber lain. trims kunjungannya.
bagus-bagus ne…………
bisa jadi sumber inspirasi nih tulisan y