(Sebuah inspirasi Qurani dari cuplikan hidup seorang politisi perempuan Ustazah Yoyoh Yusroh)
Pagi hari tanggal 21 mei 2011………….
Pagi yang ceria kala itu saya sedang mempersiapkan agenda pagi, sejam sebelum agenda pagi itu ada beberapa point yang harus direview ,tiba-tiba prepare agenda dikejutkan oleh sebuah sms dari seorang sahabat dari Jakarta tentang berita kematian seorang ustazah yang bernama Ustazah Yoyoh Yusroh, Innalillahi Wa Inna ilaihi Rajiun dalam keterkejutan sayapun tertegun, belum sempat menekan tuts-tuts HP tuk mengkonfirmasi ke teman-teman di Kota Depok yang dalam 5 bulan terakhir menjadi “tempat perjalanan sementara” saya, menyusul sms berikutnya masuk dari seorang sahabat lain yang masih dari Jakarta dan beruntun sms informasi masuk dari berbagai sumber memenuhi layar HP saya pagi itu.
Dengan langkah gontai dan diliputi kesedihan sayapun berangkat ke tempat agenda pagi itu yang memakan waktu kurang lebih sejam sesampainya di sana , agenda kami rencananya akan dipersingkat musyawarahpun dicapai dengan kesepakatan bersama akan berta’ziah ke rumah ustazah, sembari fokus pada agenda yang berlangsung selama sejam lebih itu seorang sahabat pun mengikuti agenda dan tidak lepas dari layar monitor untuk memantau kondisi dilapangan agar memastikan setiap perkembangan kondisi keberadaan jenazah yang di bawah dari Cirebon ke Jakarta, dan persiapan prosesi pemakaman, akhirnya setelah memplot waktu ta’ziah yang disinkronkan dengan kondisi lapangan maka diputuskan waktu star menuju rumah duka jam 10 pagi……………
Avanza milik seorang sahabatpun membawa kami dari Depok menuju Kalibata Jakarta menyusuri jalur-jalur macet di seputar lenteng Agung, Pasar Minggu, Kalibata, kemudian berbelok di Jalan Duren Tiga Timur, kurang lebih hampir dua jam mobil yang kami tumpangi telah memasuki kawasan Kalibata tepatnya di Kompleks Rumah Jabatan DPR RI Kalibata Jakarta, ditandai dengan waktu zuhur sayup-sayup suara azan dari masjid-masjid diluar kompleks tersebut telah terdengar. Saat langkah kaki telah memasuki Kompleks rumah jabatan teman-teman kepanduan PKS telah bersiaga, para pelayat penuh sesak kami berencana menuju rumah duka tuk menemui keluarga ternyata jenazah sudah disemayamkan di masjid maka kamipun bergegas menuju masjid kompleks Rumah Jabatan tersebut yang saat itu telah selesai dilaksanakan sholat jenazah, padatnya para pelayat membuat sholat jenazah harus dilakukan 2 shif, para pelayat yang tampak saat itu ada dari kalangan DPR, ada beberapa tokoh nasional Indonesia, beberapa artis dan praktisi media dan juga masyarakat umum, serta sebagian keluarga besar PKS dari wilayah JABODETABEK yang sempat ta’ziah telah penuh sesak, yah …benar adanya untuk mengetahui standar kebaikan manusia dapat dilihat dari kondisi diakhir hayat mereka, saat itu Allah menampakkannya, Subhanallah…. kamipun mengambil bagian diantara shaf-shaf itu, ada rasa haru, sedih tetapi tatkala berada di bangunan masjid itu ada desir-desir kesejukan yang menghembus direlung hati saya entahlah rasa itu tidak mampu saya deskripsikan dengan apapun, desir kesejukkan itu mengingatkan saya pada cerita-cerita yg saya rekam saat ada yang kembali dari tanah suci tentang desir-desir kesejukan yang ada dihati mereka kala menginjakkan kaki di tanah para anbiyah yang telah dijamin oleh Allah akan kesuciannya, tiba-tiba saya teringat para mujahidin di Gaza palestina yang telah mewakafkan diri mereka untuk memperjuangkan tanah para anbiyah itu,…..menyadarkan saya bahwa desir kesejukan itu berhembus oleh aura di sekeliling bangunan masjid, karena di masjid itu sedang disemayamkan seorang ustazah yang juga telah mewakafkan diri untuk perjuangan dakwah, Insya Allah semoga saat itu hembusan kesejukan kepak-kepak sayap malaikat yang dengan suka cita menyambut ruh suci sang mujahidah kembali ke RabbNYA.
Dalam simpuh kami terharu dan luruh menyimak taushiah ustad Hilmi Aminudin yang mewakili keluarga besar almarhumah dalam setiap petikan-petikan taushiah itu sangat menyentuh, Almarhumah yang telah bergabung dalam barisan dakwah sejak tahun 1980an, pemahaman akan Atthoah wa thadhiah telah diaplikasikan dalam perjalanan perjuangannya, hidup beliau telah diwakafkan untuk dakwah, subhanallah……………Hari itu bukan hanya keluarga besar PKS yang berduka tapi duniapun turut berduka termasuk dari bumi para syuhada di Gaza Palestina,dan dibeberapa belahan dunia Islam turut berbela sungkawa. Aura haru, isak tangis di dalam masjid semakin mempertegas sosok kepribadian ustazah yang luar biasa teramat baik, berdedikasi, sosok pejuang sejati, perempuan pilihan yang telah dikirimkan Allah bagi lelaki pilihan penopang perjuangan umat. Beliau telah mampu memerankan diri sebagai “arsitek peradaban “ sebagai Ibu, istri, anak, politisi yang dikenal baik dalam lingkup nasional maupun internasional, tokoh perempuan Indonesia, seorang daiyah dengan terhimpun banyak amanah dipundaknya, namun ditengah kesibukan yang sangat padat sebagai publik figure beliau juga seorang hafizhoh (penghafal qur’an) Subhanallah………… warna kehidupan beliau pun tidak lepas dari Alquran, ditengah kesibukan yang sangat padat itu masih tetap menjaga prinsip-prinsip penghambaan kepada Sang Pemilik Jiwa dengan tilawah Quran 3 juz perhari. Komitmen itulah yang selalu menjadi ruh setiap gerak juangnya formulasi manajemen waktu yang sangat tertata apik dan manajemen yang sangat disiplin .Alquranlah yang menjadi cahaya dan mu’jizat luar biasa dalam kehidupan penuh berkah itu.
Hmm ….sedikit catatan sebelum saya lanjut, Sejarah telah membuktikan banyak orang-orang hebat karena kehebatan intensitasnya berinteraksi dengan Alquran, sebuah fakta yang tak terbantahkan maka logikanya jika kita menjadi bagian dari orang-orang hebat itu maka hafalkan dan amalkan Alquran mulai saat ini, belum ada kata terlambat, semua masih dapat diproses untuk menghafal dan memahaminya, azzam yang yang tertanam dalam diri dan juga keyakinan kokoh kepada Allah yang akan membantu, membimbing,memberi kekuatan dengan caraNYA, hingga menjadi penerang, penunjuk jalan dan jadi penghantar percik dibumi dan langitNYA, semoga Allah memberi kekuatan kepada kita dalam berikhtiar untuk memegang teguh dan mengamalkan Alquran, Amin Ya Rabb…..Sosok ustazah ini telah menjadi bagian dari para penghafal Quran itu. Perempuan hebat yang mampu memadukan keseimbangan peran domestik dan eksternal yang telah dilakoni secara berimbang, konsep pemahaman hakiki akan keberadaannya sebagai khalifah fil Ardh bahwa hidup adalah ibadah dengan berpegang teguh pada panduan hidup yang ditetapkanNYA yaitu Alquran, Alquran telah mengalir dalam pemahamannya untuk mewakafkan diri, harta, jiwa, dan raganya untuk perjuangan ini dan itu telah dimaknai dalam setiap tapak-tapak kehidupan beliau yang bisa disimak dari setiap rekaman perjalanannya yang kaya oleh pesan hikmah,ibrah dan keteladan hakiki bahwa berjalan bersama panduan Alquran merupakan sebuah keberkahan dan sumber kebahagiaan hakiki.
Kesibukan Almarhumah yang sangat luar biasa padat dalam mengemban amanah rakyat di DPR RI sejak tahun 1999 di komisi VIII, dan amanah terakhir sejak tahun 2009 sampai wafat di DPR RI komisi I , selain itu berbagai amanah dakwah yang diembannya mampu bersinergi dengan amanah beliau sebagai seorang Ibu dari 13 putra dan putri, hal ini patut diteladani oleh keluarga Indonesia, meski super sibuk ibu dari 13 anak yang luar biasa ini ,tetap memprioritaskan proses dan pembinaan anak-anak yang tidak luput dari perhatian, maka tidak heran ditengah padatnya jadwal agenda beliau bahkan suatu ketika masih sempat datang sendiri ke sekolah anak-anak beliau untuk mengambil rapor, subhanallah….,tipikal Ibu yang, perhatian, sabar,bersahaja, bertanggung jawab dan sangat memahami peran keperempuanannya yang tidak hanya cerdas secara organisatoris, kinerja tapi juga cerdas dalam berperan sebagai manager bagi keluarganya, beliau sangat memahami begitu berartinya perempuan sebagai peletak dasar kejayaan umat, karena wanita menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya, maka bagi perempuan apapun profesinya, entah itu sebagai dokter, pengajar,politikus, peneliti,penulis, atau profesi apapun yang diembannya secara kependidikan dan kemasyarakatan idealnya selalu berjalan beriringan dengan profesi mulia yaitu dai’yah yang mengemban misi sebagai “arsitek peradaban”, dan semoga azzam itu selalu ada dalam jenak kita untuk mengemban misi sebagai “arsitek peradaban” itu. Amiiin…….
Ustazah Yoyoh mengakui bahwa ke 13 anak-anak beliau tersebut telah didik dengan pendidikan Qurani, ke 13 anak luar biasa itu adalah :
1. Ahmad Umar Faruq. Alumnus Fak.Ekonomi Universitas Gajah mada (UGM)
2. A’izza Junduna(mahir dalam IT/Haccker,Mahasiswa Internasional University of Sarajevo, Bosnia)
3. Asma Karimah,Punya banyak hafalan Quran dan fluent English, Fak.Pertanian UGM
4. Huda Robani, Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI)
5. Sholahuddin Al Ayubi
6. Jakfar Athoyar
7. Salma Salimah
8. Muhammad Ayyasy
9. Walid Ghazin
10. Adil Gholib
11. Abdullah Aminuddin
12. Helma Hamimah
13. Rahma Rahima
Ketiga belas anak-anak luar biasa dan insya Allah sholeh sholehah ini telah mendapat tempaan paripurna dari seorang perempuan hebat nan luar biasa , maka 6 dari 13 anak beliau telah hafal Alquran …..Subhanallah. Di detik-detik akhir taushiah ustad Hilmi Aminudin, beliau membacakan SMS Ustazah yang dikirimkan ke sahabatnya beberapa hari sebelum wafat. Inilah petikan-petikan isi SMS ustazah kepada sahabatnya beberapa hari sebelum wafat :
“ Ya Robb….Aku sedang memikirkan posisiku kelak di akhirat mungkinkah Aku berdampingan dengan penghulu para wanita Khodijah Al Kubro yang berjuang dengan harta dan jiwanya? Atau dengan Hafsah bt Abi Bakr yang di bela oleh Allah saat akan dicerai karena showwamah dan qowwamahnya? Atau dengan Aisyah yang telah hafal 3500an hadis , sedang Aku…..ehm 500 juga belum……atau dengan Ummu Sulaim yang Shobiroh atau dengan Asma yang mengurus kendaraan suaminya dan mencela putranya saat istirahat dari jihad…….atau dengan siapa ya, Ya Allah, tolong beri kekuatan untuk mengejar amaliah mereka…..sehingga Aku layak bertemu mereka bahkan bisa berbincang dengan mereka di Taman FirdausMU……..”.
Subhanallah ruh juang telah menyatu dalam setiap tapak yang dilaluinya, seorang pejuang sejati, mujahidah dan perempuan pilihan yang telah menebarkan investasi kebaikan dibumi dan langitNYA, hingga Allah mengembalikan ruh itu dalam keadaan Khusnul Khatimah. Tak ada yang menyangsikan semua kebaikanmu, kami akan menjadi saksi untuk semua itu,…. dan senyum bahagia ustazah disuatu kilasan pertemuan denganku dalam sebuah agenda ketika beliau hidup begitu terpatri dihati, sungguh seorang perempuan pemimpin yang mengayomi, dan pejuang sejati yang mampu meniupkan ruh-ruh kebaikan disetiap nadi-nadi yang sedang merentas jalan panjang perjuangan ini. Alquran yang engkau genggam dalam fikir,zikir dan amalmu telah mampu menciptakan mu’jizat dan kecerdasan luar bisa , bukan hanya cerdas dalam pandangan keduniaan yang bersifat fana tapi juga cerdas mengambil bekal terbaik di negeri akhirat.
Selamat tinggal ustazah semoga jejakmu selalu ada dalam jenak juang ini , moga kami terus belajar menata diri untuk mampu menggenggam panduan hidup nan abadi itu dalam setiap detik perjalanan kami, Berharap sepenuh jiwa moga Allah yang Maha Rahman dan Rahim memilih kami tuk berperan menjadi bagian dari “arsitek peradaban”itu, Dan sungguh meski dalam kelemahan diri dan tertatih kami terus berazzam dan terus belajar berlari kencang agar mampu menjadi estafet di jalan panjang ini , Rabb……………. Kuatkanlah tuk terus belajar menata diri, Istiqomahkanlah di jalanMU, Engkau yang memiliki segala kekuatan itu, dan semoga kami dapat melanjutkan tapak-tapak jalan panjang itu…..di sini di ruang-ruang proses penghambaan kami…………………………………
Semoga Allah menempatkanmu di FirdausNYA,Amiin Yaa Rabb…….
“Dan setiap umat mempunyai ajal Apabila ajalnya tiba mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaatpun”(QS. Al-A’raf : 34)
Walahu’alam bi showab …….
(Mia dalam rekaman ta’ziah dan kontemplasi di tapal batas perjalanan yang diamanahkanNYA@Jakarta 21 Mei 2011)


