Penggalan Perjalanan ke Istana Bogor tanggal 15 Juni 2011……………..
“ Dan setiap saksi sejarah menjadi simbol keabadian dari jejak historis penggeraknya”
Pagi nan ceria menyapa Kota Depok saat lagi berkutat deadline target yang harus dirampungkan yah mengingat beberapa daftar target bulan Juni/Juli insya Allah harus diselesaikan dan tentu arahannya pada 3 target besar saya dan satu “proyek” yang sedang digarap membutuhkan energi ekstra, sudah pasti selalu bersinggungan dengan manajemen waktu, pagi itu seorang sahabat di Bogor mengontek tuk ke Istana Bogor hari itu, hmm……..sayapun berpikir dan sempat mengajukan beberapa alternatif waktu , namun nampaknya semua alternatif waktu bentrok ama agenda lain yang mengharuskan sahabat tersebut wajib hadir , hari yang bisa klop hanya hari itu, akhirnya berpikir kembali setelah menimbang , memutuskan (he he nih kayak petikan-petikan SK aja ya^_^)saya sangat mengapresiasi niat baik sahabat tersebut, dan ingin bersilaturahim juga dengannya, tertanam keyakinan bahwa “Jika niatan kita baik maka pasti Allah memberikan solusi dan kemudahan atas apa yang kita pikirkan itu” yakinlah Allah lebih tahu tentang batasan-batasan kemampuan kita maka biarlah Allah yang mengatur setiap solusi atas kehendakNYA sederhana sekali bukan?” Dialah yang mempunyai kekuasaan tertinggi atas semua hambaNYA” (QS.Al-An’am:61).
keputusanpun saya ambil dengan berpikir moga Allah mudahkan memberi waktu sebagai pengganti atas keputusan diluar planing hari itu:-)
Langsung ke TKP (Titik Keunikan Perjalanan)
Stasiun Depok Baru kala memasuki gerbong kereta AC dengan jarak tempuh Depok Baru–Bogor kurang lebih 25 menit harga karcisnya Rp. 5.500, hmm oleh karena ada perubahan kebijakan baru maka bulan Juli udah berubah jadi Rp. 7000 jika dikonversi ke yen (mata uang Jepang) kurang lebih 89.74 yen (he …..he……nih sebagai informasi kali aja ada pemandu Jepang yang butuh info^_^) selang 15 menit tiba-tiba saya dapat info dari sahabat bahwa mendadak ada hal serius yang harus diselesaikan di lembaganya sehingga tidak bisa keluar menuju ke Istana Bogor siang itu,semua di luar dugaan ……. Ups saat itu sempat kaget yah…hal yang lumrah mewakili sisi-sisi kemanusiaan kita saat itu mengingat sudah 15 menit di dalam gerbong menuju Bogor, tapi Alhamdulillah itu cuma sejenak it’s easy going Insya Allah terus belajar tuk senantiasa berbaik sangka segala sesuatu sekecil apapun bahkan daun yang gugurpun sudah melalui kehendakNYA Yang Maha Cermat , jadi perjalananpun sesungguhnya menempah kita belajar bijaksana menyikapi segala sesuatu diluar prediksi, harapan, ataupun persepsi yang boleh jadi berseberangan tapi yakin semua itu sebagai sarana pendewasaan kita dalam memandang sebuah kehidupan, yang pada intinya kita bisa belajar hal apa saja yang ditemui dalam perjalanan karena disana selalu “tertera” pembelajaranNYA yang harus dimaknai.
Tidak terasa 25 menit tiba di Stasiun Bogor sahabatpun hanya memberikan ancar-ancar menuju Balaikota Bogor Alhamdulillah langsung terkoneksi, maklum nih kedatangan yang kedua kalinya, pada saat dulu ketika pertama kali ke kota hujan itu telah dijemput distasiun dan dibersamai sekaligus diajak berkeliling mengitari Jalan-jalan diseputar Dramaga IPB, Kebun Raya,Seputaran Istana Bogor dari luar (buat sahabatku:-)hatur nuhun pisan Teh Unie tos direpotkeun:-)いろいろになりました、心から礼を言う), jadi rekaman-rekaman itu tinggal direfresh ketika tiba-tiba sahabat tidak bisa membersamai ke Istana Bogor saat itu, maka sesuai sarannya sayapun langsung menuju Balaikota Bogor dengan jalan kaki jarak dari pasar tradisional diseputar stasiun menuju balaikota mengingatkan pada salah satu tipikal jalan di Kota Bandung yaitu dari rumah sakit Baromeus menuju masjid Salman ITB di ruas jalan Ganesha Bandung:-)dari Stasiun Bogor ke balaikota Jaraknya cukup dekat kurang lebih 13 menit menyusuri perjalanan:-)sampai di Balaikota jam menunjukkan 12.25 menit versi jam tangan yang digunakan dengan asumsi kecepatan jam kurang lebih 20 menit lebih cepat dari yang sesungguhnya, lamat-lamat suara adzan Zuhur menjadi pengingat untuk segra melaksanakan seruanNYA setelah bertemu panitia di balaikota sy sejenak harus ke masjid balaikota setelah itu menuju Istana Bogor mengikuti rombongan lain yang disarankan oleh panitia saya nyelip di rombongan itu he…..he…..he….namanya juga open house:-)tuk sterilisasi kondisi maka dari keprotokoleran Istana tidak membolehkan membawa tas apapun alasannya, mereka menyarankan untuk disimpan di box yang sudah disiapkan panitia…..wow kondisi itu sangat tidak nyaman jika tas saya yang berisi “alat-alat tempat penyimpanan data dan informasi penting harus di simpan di box itu” meskipun sudah disarankan panitia dan beberapa orang dalam anggota rombongan itu saya tetap tidak akan menitipkan tas yang berisi alat dan dokumen penting serta sangat riskan ke box itu, apalagi tidak ada pengamanan khusus di box itu, melihat tidak ada satu jaminan keamanan bagi tas tsb,maka harus cari solusi lain hmm…pada prinsipnya no problem jika menitipkan tas yang berisi alat dan dokumen penting di tempat umum jika standarisasi pengamanannya jelas misalnya seperti menitipkan dokumen penting di kantor konsulat Jepang atau di Japan Foundation(lho kok jadi kesana:-)nih sebagai salah satu contoh tempat umum yang aman) , tapi saat itu tidak bisa menitipkan ke box itu meski sudah di sarankan, akhirnya sy harus melobi salah seorang panitia yang berfungsi sebagai center of information untuk menitipkan tas tersebut ke ruang kerja beliau, Alhamdulillah lega rasanya setelah ngecek semua isi dan berbagai dokumen dalam tas maka langsung diserahkan, Satu keyakinan saat itu bahwa Allah lebih tau begitu penting , berarti, dan riskannya semua dokumen di dalam tas itu.
Hmm…..memasuki halaman Istana Bogor jam menunjukkan pukul 13.40, langsung mengambil bidikan gambar sekawanan rusa di halaman Istana, obyek ini mengingatkan pada memori masa kecil saat nonton Film GESTAPU, yah….film yang masih lekat dalam rekaman setiap bulan september Almarhum Ayahanda tercinta (jadi terbawa suasana haru dan berkaca-kaca saat mengingat, sosok teristimewa, lnspirator, dan motivator sejati disetiap jejakku, semoga beliau selalu dilimpahi rahmat dan dilapangkan tempat disisiNYA) beliau mengajak kami untuk nonton film itu bersama-sama, ada seting bagian-bagian alur dalam film itu mengambil seting Istana Bogor masih terekam dalam memori kecil saat nonton sempat terlintas suatu saat akan ke tempat itu hmm rupanya hal ini dipengaruhi oleh kesukaan saya pada pelajaran geografi waktu SD, salah satu pelajaran favorit saking favoritnya ga mau belajar yang lain,begitu antusias menghafal seluruh pulau di Indonesia bahkan pernah punya mimpi untuk mengelilingi Indonesia he ..he….he…namanya juga mimpi….tapi Alhamdulillah atas izin Allah dan dengan caraNYA sebagian besar pulau-pulau dalam mimpi masa kecil sudah dikunjungi…….Alhamdulillah …masih lekat saat kecil suka bermain dengan segala jenis permainan tradisional anak-anak ala pedesaan, sambil suka melihat-lihat peta, globe, herannya kok ga pernah bosan melihat peta dan globe padahal ga ada yang berubahkan?, kalaupun ada, perubahannya usang karena sering dipegang dan dilihat:-)nah itulah sekelumit rekaman keakraban pada peta dan hafalan nama-nama pulau, tempat-tempat bersejarah,tempat-tempat unik ,suku-suku terasing, bahasa, keragaman Indonesia yah pelajaran yang sangat disukai waktu itu… hingga suatu ketika saat Allah mengantarkan mimpi-mimpi masa kecil dengan caraNYA, sayapun tinggal membuka “file” untuk mencocokkan …Subhanallah…..salah satunya yah di tanggal 15 Juni 2011 tersebut diperkenankan bisa melihat Istana Bogor sebagai seting dalam film Gestapu yang konon film ini begitu diminati karena terkait dengan patriotisme anak bangsa tapi kemudian dinyatakan kontroversi, terlepas dari itu semua, seting dalam salah satu alurnya adalah Istana bogor dengan segala keunikannya.
Istana Bogor cukup luas dengan ukuran sekitar 28 hektar, didirikan pada tahun 1745 (wow…berarti istana ini sudah ada 200 tahun sebelum Indonesia merdeka) artinya telah banyak merekam jejak-jejak kesejarahan. Pendirinya Gubernur Hindia Belanda yang bernama Baron Gustaf Williem Van Imhof. Halamannya ditumbuhi pohon beringin yang besar-besar (pohon-pohon ini cukup berpotensi jadi resapan air, untuk menjaga keseimbangan alam dan ekosistem yah pantas aja kalau Bogor jadi sejuk, penghijauannya cukup baik,struktur dan unsur hara tanahnya juga sangat baik untuk pertanian, jadi kalau rujukan institut pertanian terbaik Indonesia ada di Bogor secara tipologi geografis dan keilmiahan cukup tepat)back to topic pohon ini usianya ratusan tahun sangat wajar mengingat Istana tersebut dibangun pada kisaran abad ke-17, mulai masuk ke pelataran sayap kiri istana Bogor, hmm….rupanya pernak pernik diistana ini cukup merepresentasikan idealisme seorang negarawan seperti Pak Karno itulah kesan yang muncul, mulai masuk ke gedung induk tepat berada di sisi kiri arah pintu masuk gedung induk ini sebuah ruang makan presiden dan tamu negara selevel menteri di depan ruang itu ada ruang kerja Bung karno disana terpampang lukisan maestro Rusia yang bernama Makouski usia lukisan itu diperkirakan kurang lebih 120 tahun ,sejajar dengan ruang kerja itu ada perpustakaan pribadi beliau dengan koleksi buku berjumlah 350 buah, koleksi 350 buah masih terbilang sangat sedikit untuk tokoh sekaliber Bung Karno yang dikenal kutu buku, pikirku…. saya yakin koleksi beliau masih cukup banyak tersimpan dirumah pribadi atau di tempat lain di luar Istana Bogor,diperpustakaan pribadi itu di pajang gambar-gambar pasangan presiden Indonesia mulai dari gambar Bung Karno bersama Ibu fatmawati, Pak Harto dengan Ibu Tien, Pak Habibie dengan Ibu Hasri Ainun, Gus Dur dengan Ibu Sinta, Ibu Mega dengan Pak Taufik, dan presiden yang sedang menjabat saat ini yaitu Pak Susilo Bambang Yudoyono dengan Ibu Ani yang cukup menarik perhatian saya di ruang perpustakaan itu didominasi oleh boneka-boneka Jepang wow it’s amazing! (可愛い人形、なんと可愛いこと!大統領の家内は日本人いるとおもいます)kayaknya dominasi boneka itu cukup beralasan itu menurutku, bukan hanya sekedar hubungan diplomasi dan bilateral dengan negara lain seperti Jepang:-)tetapi ada kemungkinan selain aliran citra seni yang kental dalam diri presiden boleh jadi dipengaruhi corak budaya salah seorang istri beliau seorang asli Jepang yang bernama Naoko Nemoto(直子根元) atau di Indonesia lebih dikenal dengan nama Ratna Sari Dewi.
Langkah kaki Kemudian menuju ruang teratai disana dipajang gambar teratai lengkap dengan gambar presiden seorang diri mulai dari presiden pertama sampai presiden yang terakhir fungsi ruangan ini untuk menjamu tamu internasional dan nasional , pandangan selanjutnya mengarah ke ruang Garuda, lambang burung garuda begitu kokoh menghiasi dinding-dinding putih itu, ruang yang elegan berfungsi sebagai tempat konfrensi, upacara kenegaraan resmi,dan juga rapat-rapat kenegaraan, sayapun bergegas ke gedung induk sayap kanan yang berfungsi untuk menerima tamu negara setingkat presiden, jadi kalau presiden dari negara lain mengunjungi Istana Bogor akan di jamu di gedung Induk sayap kanan, sedikit waktu dimanfaatkan berbincang dengan guide Istana untuk mengorek beberapa hal dan menyampaikan keterheranan saya pada bagian-bagian Istana yang tidak boleh terpublish?????(nih bagian dari aspirasi rakyat lho…he…he..he) sebelum akhirnya beliau mendampingi tamu dari MENSESNEG RI, perbincangan sekilas itu telah mengakhiri Perjalanan di Istana saat waktu menunjuk pada jam 14.20 menit, ditandai dengan berakhirnya gerak jepretan lensa , sayapun pulang dan berjalan melewati Plaza Kapten Muslihat atau lebih di kenal dengan Taman Topi lalu kemudian menuju BTM bukan BMT yah (Bogor Trade Mall, Correct me if I wrong^_^)Subhanallah……disana sahabat sudah menunggu kamipun langsung ke food court, Yummy….Yummy….menu pesanannya telah siap tersaji yaitu empek-empek(エンペクエンペクはパェンバンから食べ物伝統、魚から作ります、とてもおいし、私はだいすきです、私の友人ため。。。お世話様でしたtau aja nih Teteh makanan kesukaan saya he…he..he, sembari menikmati hidangan bercerita banyak hal mulai dari Istana Bogor, beberapa tempat di Indonesia sampai Jepang, lumayan lama kami bercerita:-)maklum prediksinya kami tidak akan pernah ketemu lagi(jadi terharu), sehingga perbincangan kami sangat mengalir memanfaatkan moment pertemuan langsung itu, Hal yang selalu saya syukuri bahwasanya setiap perjalanan selalu dipertemukan sahabat-sahabat terbaik dan menakjubkan, satu pelajaran penting kehidupan yang selalu direnungi agar bisa belajar menata diri, sebagai wujud rasa syukur atas setiap anugerah berlimpah yang diberikanNYA sungguh tak pernah terkalkulasi oleh apapun. begitupun dalam makna sebuah persahabatan, karena hakikatnya Allah juga yang telah memilihkan agar kita bisa bercermin,bahwa di balik sosok sahabat kita diisyaratkan untuk belajar, melihat, memahami tentang pelangi kehidupan:-) tidak terasa waktu mengharuskan saya pulang ke Depok pertemuanpun harus diakhiri dengan mengantar ke stasiun…..Alhamdulillah jadwal kereta yang ke Depok jam 18.10, tapi jadi telat jam 18.45 menit ups sangat-sangat tidak tepat waktu , dari darat, laut, sampai udara belum ada transport umum yang ditemui tepat waktu, rasa-rasanya selama perjalanan transport yang catatan telatnya ga terlalu lama dalam benak saya hanya saat menggunakan transport udara dari Sukarno Hatta ke Propinsi Bengkulu di tahun 2004 telatnya sekitar 4 menit selebihnya semua transpor apapun baik darat, laut, maupun udara yang pernah saya temui telatnya berkisar pada 15menit atau lebih dari itu:-) sampai di 下宿 di kawasan kompleks perumahan ini kurang lebih jam 19.30 Alhamdulillah setelah berbenah saya melihat hasil jepretan-jepretan waktu di Istana Bogor, tapi upss……sebagian besar “penampakan-penampakan” yang tidak masuk dalam obyek bidikan muncul, benar-benar diluar logika, what wrong?…..setelah ngecek beberapa kali benar hasilnya sebagian besar penampakan, ini kejadian aneh serta baru pertama kali dialami , sayapun mengontek banyak link yang erat kaitannya dengan Bogor, semua balasan yang diterima mengatakan belum pernah ke Istana, sama sekali tidak ada referensi untuk kejadian itu, akhirnya kejadian itu menjadi sebuah catatan besar untuk dicarikan referensi, malam itu kembali harus fokus melanjutkan kerjaan yang sempat tertunda disiang hari dan saking asyiknya tidak terasa jam 1.45 dini hari harus beristirahat, kemudian jam 3.50 menit harus bangun menghadapNYA mengingat kita hanya manusia lemah tentu sangat butuh kekuatanNYA,tidak ada kekuatan,energi dan spirit selain dariNYA,praktis hari itu hanya tidur 2 jam lebih, sebuah siklus yang kadang cukup standar bagi saya saat dalam kondisi-kondisi all out pada apa yang dikerjakan:-)tapi Alhamdulillah setiap standar siklus yang dilewati selalu memproses pemaknaan karena setiap apapun yang terjadi atas izin dan kehendakNYA, Allah sudah melimpahi kita begitu banyak karunia, semoga disetiap aliran karunia yang tak terbilang itu mengiring lautan Syukur kepada Rabb Sang Pemberi.
Pagi hari tanggal 16 Juni jam 6.20 menit pagi sayapun harus terlibat diskusi panjang selama 40 menit dengan orang yang diyakini cukup memiliki referensi kesejarahan dibanding dengankuyah kenapa topik kesejarahan tiba-tiba menjadi bahan diskusi menarik? Tentu masih erat kaitannya dengan Istana Bogor yang menyimpan banyak keunikan sejarah sekaligus kemisteriusan(ups kesannya meuni menyeramkan pisan euy, he…he..he just kiding).
Yah…pentingnya sejarah dalam sebuah persepsi, Sejarah merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa penting yang didesain tanpa kita tau permukaan maka kita akan mempersepsi secara dangkal,karena itu mengkaji sejarah harus komprehensif, Jadi ingat Alquran jika kita banyak mentadaburi ayat-ayat didalamnya juga ada yang berbicara tentang sejarah, Kenapa Alquran banyak mengungkap sejarah? Karena sejarah dalam Alquran itu penting dan lebih obyektif, sehingga Alquran menceritakan sejarah dengan obyektif.kebenaran Alquran mutlak tidak diragukan lagi, termasuk sejarah Nabi dan Rasul, serta para Sahabat.
Selain konteks diatas maka ketika kita akan membahas tentang sejarah baik dilihat dari sisi ke Indonesiaan atau apapun tidak terlepas dari runutan potongan-potongan sejarah itu agar tidak multi interpretasi itulah kenapa belajar sejarah berarti juga memahami mata rantai penghubung sejarah itu dimasa lampau, dan masa sekarang. Selain membaca tentu berdiskusi dengan sejarawan yang obyektif juga penting, atau membaca berbagai literatur yang dapat dipertanggung jawabkan kenapa ada titik tekan dipertanggung jawabkan? Karena sebuah literatur mewakili persepsi penulisnya tentu sebagai pembaca aktif butuh perenungan untuk mencerna setiap pokok pikiran yang disampaikan oleh penulisnya atau dengan kata lain pembaca aktif harus lebih cermat menangkap setiap intisari dari bacaan agar bisa membantu menemukan potongan-potongan konprehensif tentang perjalanan panjang sebuah sejarah itu secara utuh.
Sejarah dalam konteks negara bisa dikatakan milik penguasa semua bergantung bagaimana penguasa menghadirkan sejarah itu, saat melihat Istana Bogor disana juga banyak menghadirkan sejarah tentang Bung karno, baik dalam kapasitas sebagai seorang negarawan maupun pribadi,perjalanan kehidupan Bung Karno telah banyak dilalui di Istana Bogor sehingga tempat itu menjadi simbol seorang negarawan, sebagai negarawan Bung Karno juga tercatat sebagai salah seorang dari tiga murid terbaik HOS.Cokroaminoto, dikenal kutu buku, memiliki talenta seni, dan beraliran nasionalis religius, pada masa pemerintahannya mencoba mengakomodir berbagai ideologi maka tidak mengherankan dalam “perjalanannya” kerap memunculkan wacana-wacana kontroversi, sebagai contoh kehadiran sejarah tentang pembuatan teks proklamasi, secara historis teks proklamasi dihadirkan sebagai buah pikiran dari Bung Karno tapi jika ditelusuri dan dikaji lebih jauh sesuai data historis dan otentik maka kita akan menemukan potongan-potongan obyek menarik yang tidak terpublish,dalam kerangka teks itu ada “desain” dari anak bangsa yang juga turut berkontribusi pada pembuatannya selain Bung Karno,mereka memiliki peran tetapi tidak dipublish(of the record)nah inilah sebuah contoh bagaimana menghadirkan sebuah sejarah, salah seorang yang memiliki peran pada pembuatan teks proklamasi tetapi tidak dipublish itu adalah Tan Malaka, seorang pejuang dari Sumatra Barat masa kecilnya banyak dihabiskan di surau artinya beliau tentu memiliki basic keislaman yang cukup baik, seorang aktivis yang memiliki idealisme, para penguasa mencap Tan Malaka pemberontak hanya karena banyak membaca buku Marxisme,dan berdiskusi dengan kalangan “ kanan” dan “kiri”, sekedar membaca buku,sah-sah saja jika seorang aktivis membaca buku apapun “alirannya” sebagai referensi dan sebagai pembanding untuk memperkaya wawasan, pun berdiskusi dengan siapa saja untuk membangun kerangka berpikir yang konstruktif tentang suatu hal, bukannya membaca dalam arti luas akan membuka simpul-simpul ilmu,maka bagi pejuang seakan menjadi sebuah keharusan membaca berbagai referensi buku, jadi ingat kebiasaan Muh.Natsir seorang pejuang Islam yang paham nasionalisme serta memiliki idealisme, kebiasaan Muh.Natsir menu wajibnya membaca 200 halaman perhari, beliau menyampaikan agar kita berdiskusi dengan musuh-musuh dengan sumber yang jelas, tidak mengedepankan asumsi dengan memakai ilmu kirologi yah begitulah cuplikan sejarah tidak mempublikasikan Tan Malaka yang memiliki Idealisme dan juga salah seorang yang punya peran penting dalam pembuatan teks proklamasi, sampai saat inipun kuburannya tidak diketahui, cukup misterius. Itulah percik sejarah semoga kita bisa banyak belajar dari sejarah masa lampau dan juga menghadirkan sejarah itu secara lebih bijak dan lebih arif, agar kita menjadi bangsa yang besar, yang selalu menghargai jasa-jasa para pendahulu yang telah mengorbankan harta, jiwa dan raga demi Indonesia.
Pertanyaannya sekarang seperti apakah kita menghadirkan sejarah kehidupan kita? Maka mulailah saat ini, perlahan tapi pasti ukirlah sejarah hidup kita dalam prasasti terindah di langit dan di bumi bersama senandung kudus dalam “fatwa-fatwa” alam yang mengabarkan hakikat sebuah kebenaran:-)
Walahu’alam bi showab………^_^
“Mia dalam ritme dan senandung alam di Kota Bogor Juni 2011“
Tuk sahabat saya di Kota Bogor yang menjadi titik dari perjalanan ini “Semoga Allah membalas segala kebaikanmu dengan kebaikan yang lebih baik” Hatur nuhun pisan Teteh 私たちの友情の一層深いものになりますようにどうもありがとうございます

