MEMAKNAI IKRAR SUMPAH PEMUDA DAN RUH PATRIOTISME KEBANGSAAN

ZARUMIAH AUMI………
Pemaknaan Ikrar Sumpah Pemuda dan Ruh Patriotisme.
“Bagi kami Indonesia menyatakan suatu tujuan politik yang melambangkan dan mencita-citakan suatu tanah air di masa depan dan untuk mewujudkan tiap orang Indonesia akan berusaha dengan segala tenaga dan kemampuannya (Muhammad Hatta, 1928).
“Satu nusa, Satu bangsa, Satu Bahasa kita”, Ikrar sumpah pemuda yang telah digaungkan sejak tanggal 28 oktober 1928, tidak hanya dimaknai secara simbolisasi momentum, namun ia seperti gerak susur yang selalu merentas perjalanan sejarah bangsa dengan gema yang terpatri kokoh dan senantiasa menumbuhkan jiwa patriotisme dan rasa memiliki Indonesia. Dalam butir-butir sumpah pemuda tidak hanya sekedar memuat ikhtisar sebuah pengakuan keIndonesiaan yang terangkum dalam “Satu nusa, Satu bangsa, Satu Bahasa namun lebih dari itu hendaknya rangkuman ini harus dimaknai secara paripurna dan penuh dedikasi akan amanah yang bersender di pundak setiap komponen bangsa yang mengatas namakan putera dan puteri Indonesia untuk selalu bekerja keras dan senantiasa memegang teguh nasionalisme.
Nasionalisme seharusnya selalu tercipta dan tidak akan pernah luntur jika seluruh lapisan masyarakat dan komponen bangsa dalam negara kesatuan Indonesia ini sangat memahami eksistensi keagamaan, keberagaman, kebangsaan. Keagamaan menjadi ruh yang dapat membimbing dan mengarahkan setiap orang menjadi pribadi yang mencintai negara sebagai implementasi dari pemahaman dan tanggung jawab pada keyakinan keagamaannya untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan dan kebenaran.
Keberagaman diharapkan menjadi entitas yang dapat merekatkan berbagai corak perbedaan dan dinamika kompleksitas, sebuah mata rantai yang selalu memandang bahwa sekat-sekat wilayah, suku, budaya, bahasa dan lainnya, merupakan pernak-pernik keberagaman yang selalu di ikat oleh penyatuan sebagaimana yang terangkum dalam ikrar sumpah pemuda untuk selalu mengokohkan nasionalisme, kalau Gellner telah mengisyaratkan bahwa “nasionalisme berfungsi sebagai “penanda” akan lahirnya budaya yang kompleks” , yang mana keberagaman ini tidak pernah terlepas dari konteks sosial, jika meminjam konsep ontologi sosial bahwa “menolak “yang lain” sesungguhnya merupakan kekeliruan, Sebab yang lain tidak pernah hadir secara absolut sebagai “yang lain” , namun berperan dalam keberadaan “Aku” tanpa “yang lain” maka “aku” juga tidak ada” (F.K. Sitorus,2004).
Penyatuan dari setiap perbedaan itulah yang dalam proses perjalanan kehidupan berbangsa kerap memunculkan intrik-intrik ujian untuk mengukuhkan sikap ksatria dalam menggenggam prinsip nasionalisme tersebut. Seberapa besar ujian itu selalu menjadi remainder pemaknaan untuk memperkokoh ruh patriotisme yang mengalir dalam sikap nasionalisme, contoh yang paling konkrit bisa dicermati ketika Indonesia dihadapkan pada wacana dan isu pergolakan yang ditandai dengan intrik sebuah wacana pemisahan diri dari wilayah kesatuan Indonesia seperti dalam Papua bergolak, RMS, Aceh Merdeka atau intrik-intrik internal lainnya yang menyisakan banyak catatan agar bangsa ini kembali menilik dan memaknai makna sumpah pemuda yang telah dicetuskan dengan nilai patriotisme para pejuang bangsa.
Ranah ketahanan nasionalpun tidak jarang diterpa dengan isu wilayah teritorial yang berkaitan dengan laut, darat, udara yang mana isu sentralnya membidik kawasan perbatasan teritorial tersebut menjadi sasaran empuk yang di klaim milik sebuah negara tertentu, oleh karena itu sikap merasa memiliki Indonesia akan menjadi kata kunci untuk terus mempertahankan dan menyikapi secara bijak setiap isu yang berkembang dan berpotensi menggoyahkan nasionalisme tersebut tentu dengan jalan lebih mengukuhkan ruh patriotisme dan kebangsaan untuk senantiasa mempertahankan Indonesia.
Lantas seperti apakah kita memaknai ikrar yang telah dicetuskan itu? Jawaban yang sangat sederhana namum membutuhkan perenungan dan perjuangan secara menyeluruh bagi setiap komponen bangsa yaitu bahwa kita tidak pernah berhenti untuk berproses dan belajar bersama sesuai kapabilitas yang dimiliki demi darma bakti pada Indonesia, berpikir arif dan bijak untuk menyikapi setiap kondisi bangsa serta terus menata diri dalam kebaikan agar dapat selalu berkontribusi bagi kemanfaatan bangsa mulai dari lingkup terkecil sampai institusi terluas yang bernama negara.

Instrumen dan Penguatan Kebangsaan
Instrumen dan penguatan kebangsaan selalu berkorelasi dengan wawasan dan pencerahan agama sebagai penyokong dan pilar utama pembentuk kualitas dan stabilitas sumber daya manusia yang mumpuni. Adanya krisis kepercayaan, krisis moral dan multi dimensi dalam tataran real harus diakui sebagai dampak dari kesenjangan antara pola pemahaman ilmu dan integritas keagamaan yang belum dimaknai sepenuhnya, yang tidak jarang hanya dipahami sebagai pengguguran kewajiban tanpa menyisakan kesadaran yang mendalam akan eksistensi keduanya sebagai penuntun yang sangat penting bagi kehidupan manusia, oleh karena itu penting digaris bawahi penguatan kedua unsur penting tersebut merupakan kewajiban bersama untuk menguatkan nilai kebangsaan.
Dalam sisi tinjauan ekonomipun masih ada kecenderungan kebijakan fiskal yang belum sepenuhnya menstimulus dan mengawal pertumbuhan ekonomi kerakyatan, rasio pertumbuhan ekonomi yang belum berimbang dengan populasi penduduk yang terus merangkak menembus angka 240 jutaan lebih seakan terpampang jelas telah memberi ekses pada banyaknya rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, belum lagi ekses yang ditimbulkannya lebih jauh berdampak pada berbagai fenomena sosial dan penyakit kemasyarakatan yang kronis seperti korupsi, kolusi, nepotisme yang mewabah bak cendawan, bermunculannya sindikat penjualan anak dan perempuan, isu tenaga kerja Indonesia ke luar negeri dan lainnya sudah seharusnya membuka kesadaran bersama untuk bangkit dan memikirkan kondisi bangsa ini, kita tidak boleh berdiam diri untuk terus memperlebar jurang kesenjangan itu, tapi marilah dengan sekuat kemampuan merasa terpanggil untuk segera melakukan langkah-langkah kongrit membangun infrastruktur ekonomi yang lebih mapan juga pro kerakyatan, dengan managemen pemberdayaan yang luas hingga menjangkau daerah terpencil dan wilayah terpinggirkan, memperbaiki kondisi sosial dan selalu menanamkan kepekaan bersama bahwa apa yang dirasakan oleh sebagian dari masyarakat juga merupakan perasaan kita bersama, jadi memupuk sikap tenggang rasa dan saling tolong menolong dalam kebaikan harus selalu di suburkan dalam diri, jika bukan kita siapa lagi yang akan memikirkan bangsa ini, karena itu segeralah kita bergerak untuk selalu menanamkan saham kebaikan bagi diri dan bangsa yang dicintai ini, seperti meminjam ungkapan dalam lagu nasional “bagimu negeri jiwa raga kami”, begitulah wujud kebangsaan yang harus terpatri kokoh dalam sanubari.
Eksplorasi dan eksploitasi menjadi tema sentral ketika bersentuhan dengan bidang pertambangan, pertanian, perikanan, perkebunan, dalam wilayah-wilayah ini Indonesia menjadi sasaran empuk maklum negara yang dianugerah berlimpah sumber daya alam seperti minyak, gas bumi, timah, emas, nikel, batubara, aspal, kekayaan hayati, tumbuhan obat-obatan, hasil perikanan, hasil perkebunan semakin memposisikan Indonesia berperan sebagai “lumbung subur” maka tidak heran percaturan ekonomi global tanpa Indonesia akan “gagap” karena Indonesia memiliki arti penting bagi dunia ibarat tubuh manusia maka Indonesia seperti jantung yang memompakan darah ke seluruh tubuh.
Posisi tawar dan serbuan masyarakat dunia terhadap Indonesiapun semakin tak terbendung, tentu serbuan ini melingkupi seluruh aspek kehidupan, nota kerjasamapun mulai dibangun dari berbagai kawasan dunia entah dari Barat atau Timur seakan semakin mempersempit ruang-ruang batasan teritorial, siap maupun tidak kita harus beradaptasi dengan segala tuntutan global itu dengan tanpa menghilangkan budaya dan peradaban serta tetap mempertahankan nilai-nilai kesatuan yang senantiasa mengakar dalam diri bangsa.
Negara-negara maju memiliki kebergantungan yang sangat besar kepada Indonesia sebut saja Jepang contohnya negara penganut politik dumping yang menjadi simbol negara paling maju di Asia ini membangun raksasa teknologi dengan signifikan padahal jika kembali ke belakang menilik sejarahnya pasca kehancuran Hiroshima dan Nagasaki belum cukup dari 100 tahun telah memposisikan diri sebagai negara yang cukup di segani di dunia, direntang waktu yang cukup singkat telah menorehkan usaha yang cukup prestisius mengangkat harkat dan martabat negaranya di mata dunia sebagai negara maju bahkan wilayah teritorial Jepang yang sangat sempitpun mampu diolah dan diubah menjadi lahan pertanian yang maju, terkait dengan kemajuan pertanian Jepang tersebut sesungguhnya Indonesia telah menanamkan “saham” salah satunya kebergantungan Jepang pada kedelai sebagai bahan baku pembuatan tempe, pasokan terbesar bahan baku ini bersumber dari Indonesia, terlepas dari segala kebergantungan Jepang ini ada hal yang cukup menarik dicermati dari kemajuan Jepang tersebut yaitu budaya disiplin dan tanggung jawab kolektif yang mengakar pada setiap individu warga negaranya. Potensi luar biasa Indonesia dengan keramahan, sopan santun dan karakter ketimuran yang begitu kental sudah selayaknya mampu menjaga integritas kebangsaan itu dalam makna penyatuan, berdisiplin dan bahu-membahu menjaga stabilitas dan tanggung jawab kolektif sebagai implementasi keIndonesiaannya.
Eksistensi Indonesia semakin kuat dimata negara-negara maju, dengan sumber daya alam berlimpah dan potensial seharusnya menjadi “tiket masuk” Indonesia untuk disejajarkan dengan negara maju, tetapi kenapa sampai saat ini nampaknya masih bertahan pada predikat negara berkembang, predikat untuk memperhalus istilah kondisi negara saat ini sebuah pernyataan klasik dan realita ironis yang senantiasa muncul, menari-nari bahkan berseliweran di kepala para pecinta dan orang-orang yang masih mau berpikir untuk kemajuan bangsanya. Jawabannya semua berpulang pada hati nurani dan mata batin kita menangkap, membaca, merenungkan, mendengar dan menelaah serta merasakan semua fenomena dan kesenjangan yang belum sesuai dengan harapan itu, kita harus memaknainya sebagai instrumen yang sangat berarti untuk membelajarkan dan menemukan serta memupuk motivasi bersama menata kembali Indonesia menuju apa yang telah dicita-citakan yaitu negara yang bersatu, bermartabat, maju dan makmur dalam satu spirit bersama seperti yang telah tertuang dan di cita-citakan sumpah pemuda menggenggam Indonesia dalam kesatuan arah, bergandengan tangan untuk senantiasa menciptakan dan menguatkan jiwa nasionalisme dan rasa kebangsaan kita sehingga Indonesia selalu berdiri tegak sebagai bangsa yang besar dan kokoh ditengah dinamika dunia yang akan mewarnainya, bersatulah bangsaku….jayalah negeriku.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.