Selamat Tahun Baru Islam 1 MUHARAM 1433 H (^_^)

(LEMBAR EVALUASI…… WAKTU ADALAH NILAI KEBAIKAN)

Rotasi tersibak oleh episode baru
Di setiap garis Kutub Bumi
Kau……
Sangat Bernilai, bahkan teramat bernilai di pusaran inti gerak Nebula
Begitu istimewa di ruang semesta
Kau…….
Selalu menjadi nilai penghantar nilai
Melaju tanpa sekat dan batas
Menyapa bumi
Tanpa pernah kembali……..
Membalut jiwa-jiwa
Karena Kau……adalah…….Sesuatu………..
Yang akan menjadi neraca pengukur makna penghambaan kepada Rabb…….
(Coretan Mia Awal Muharam 1433 H)

Mengawali Hari………
SELAMAT TAHUN BARU ISLAM 1433 H, MIA,…..MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN YA (^_^)

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah . Sungguh , Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (QS. 59:18)

1432 Hijriah ke 1433 Hijriah moment pergantian tahun yang selalu menyisakan kisah sejarah masa lalu dan menanamkan sebuah komitmen untuk perbaikan diri di masa depan yang lebih baik, meski masa depan itu mutlak hanyalah dalam pengetahuan Allah.
Rotasi pergerakan waktu dari 365 hari, menuju bulan, tanggal, hari, jam, menit hingga detik merupakan fasilitas yang dipersiapkan kepada manusia untuk semakin memahami fungsi peran kekhalifahan di muka bumi sebagai hamba yang beribadah dan memakmurkan bumi .
Waktu saat ini merupakan tonggak momentum untuk melakukan perbaikan diri dengan aktivitas-aktivitas yang di ridhoaiNYA…
Sudahkah kita mengevaluasi diri tentang sholat, puasa, zakat, serta aktivitas-aktivitas yang menjadi penghantar untuk sebuah nilai cita-cita?
Sudah sejauh mana kita juga memahami persaudaraan dalam nilai-nilai Islam, bahwa indikator orang yang di katakan beriman ketika ia sudah bisa menanamkan mutiara-mutiara kebaikan pada saudara ataupun orang lain sebagaimana menanamkan mutiara-mutiara kebaikan pada diri sendiri, selalu memberikan kebaikan dan menebarkan nilai kemanfaatan, yang artinya mengevaluasi diri dalam garis “horisontal” dan “ vertikal” menjadi begitu berarti dan senantiasa diproses disepanjang waktu .
Dan……pergantian itu sebuah tonggak perubahan ?……..
Pergantian tahun bukanlah sekedar dipahami sebagai pergantian digit angka, dimana digit itu tetap memperlihatkan simbol yang sama dengan kemarin, kini dan esok, hanya nilai makna yang bisa membedakan bahwa hari kemarin adalah kisah, hari ini titik sejarah dan hari esok adalah cita-cita……yang tentu semua harus dibingkai dengan keberkahan, perpaduaannya adalah proses dan akhirnya adalah keridhoaan SANG PENCIPTA.
Cita-cita?………..
Sudahkah merancang grand design cita-cita dan mimpi-mimpi kita di tahun sekarang, yang entah sampai di batas apa Allah memberi amanah kehidupan ini?……………
Kalau ada yang menjawab “sudah”
Lantas apakah cita-cita yang tertanam?
Pasti banyak yang menjawab…..” Cita-citaku ingin menjadi”
“ Jadi Polisi”
“Jadi Pilot”
“Jadi Dokter”
“Jadi Pengajar”
“Jadi Insinyiur”
“ Jadi peneliti”
“Jadi Pengacara”
“ Jadi pengusaha”
“ Jadi Ibu Rumah Tangga”
“Jadi Penulis”
“Jadi Pedagang”
“Jadi Wartawan”
Dan masih banyak lagi cita-cita yang merepresentasikan diri serta mengejarnya dengan usaha terbaik dan bekal terbaik.
Pikiran, tenaga, materi, fisik dan lainnya akan di kondisikan untuk memperjuangkan semua cita-cita yang di inginkan itu hingga sampai di puncak harapan,
Adakah yang salah dengan cita-cita itu?………
Sama sekali tidak ada yang salah dengan cita-cita itu, semua benar adanya, namun……….apakah hanya sampai disitu?Merasa lega setelah mendapatkannya…..saat telah berada di tahap “menjadi” apakah itu sebuah batas akhir .
Tentu jawabannya “Tidak”
“Menjadi” sesuai yang dicita-citakan merupakan keharusan dengan menyempurnakan ikhtiar terbaik dan mempersiapkan segala perbekalan terbaik dan terencana.
Ketika cita-cita telah berada di puncak harapan sudah menjadi “Polisi”, “Penerbang”, “ Dokter”, “Pengajar”, “ Insinyiur”, “ Peneliti”, “Pengacara”, “ Pengusaha”, “ Ibu Rumah Tangga”, “Penulis”, “Pedagang”, “ Wartawan” , dan berbagai cita-cita “ menjadi” lainnya, maka yang tidak bisa dilupakan adalah apapun cita-cita kita dalam kacamata duniawi jangan pernah dilupakan bahwa , hendaklah selalu tertancap niatan untuk menjadi bagian investasi yang mengantarkan menuju surgaNYA…….
Yah…..itulah cita-cita tertinggi kita yang paling hakiki adalah bercita-cita mendapatkan surga.
Lho….kenapa kita harus optimis dengan Surga?
Bukannya kita manusia yang diliputi oleh kekurangan, kekhilafan dan berlumur dosa, yang merasa belum pantas mendapatkan SurgaNYA…?Bukannya Surga adalah keputusan dan hak mutlak Allah yang diberikan kepada hamba-hamba yang di ridhoiNYA?
Yah…. benar, Tapi yang harus kita yakini bahwa jangan pernah kita merasa berputus asa dari Rahmat Allah….
Karena itu……………..
Jangan pernah berhenti untuk memproses diri secara optimal dan sungguh-sungguh untuk melakukan kebaikan yang bisa mengantarkan menuju jalan-jalan keridhoanNYA, dengannya kita akan bisa merasakan begitu berharga dan berartinya waktu untuk bisa berbekal dengan nilai kebaikan di hadapanNYA.
Berharap dengan sepenuh jiwa agar nilai-nilai itulah yang bisa mengantarkan pada RahmatNYA.
Rasulullah bahkan memberikan anjuran agar ketika kita memohon Surga kepada Allah maka mohonlah yang terbaik yaitu Surga Firdaus……….
Nah…. untuk mendapatkan yang terbaik itu maka tentu harus dilalui dengan usaha sungguh-sungguh, terbaik dan juga istimewa tentunya, bukan sebuah gerak instant tapi gerak intens, yaitu berproses terus……terus……dan terus……tanpa kenal henti dalam memperbaiki diri ke arah yang lebih baik dan batas proses itu terhenti ketika Allah memanggil kita menghadapNYA, dalam batas usia berapapun entah itu 70 tahun, 10 tahun, 50 tahun, 40 tahun, 13 tahun, 24 tahun, bahkan mungkin 120 tahun, kalkulasi usia acak namun yang harus di pahami seberapapun batas usia manusia sesungguhnya itulah desain terbaik Allah yang merancang batas usia manusia itu sudah cukup untuk mengantarkannya bisa berbekal menuju Surga jika manusia mau berpikir tentang arti nilai sebuah waktu dan perannya untuk beribadah.
Sebuah kata-kata bijak ini patut untuk direnungi…………
Aku tidak pernah menyesali hari ketika matahari tenggelam , karena itu berarti umurku berkurang dan amalku tidak bertambah”(Ibnu Mas’ud)
Karena itu …….Berbekallah yang terbaik menujuNYA
“Sesungguhnya malam dan siang hari itu bekerja untukmu, maka bekerjalah kamu untuk keduanya” (Umar bin Abdul Aziz)
Satu cita tertinggi dan paling hakiki ketika Allah meridhoi setiap langkah sesuai ke ridhoaanNYA
Dan…….
Waktupun akan menjadi saksi untuk setiap perjuangan terbaik kita adalah proses untuk mempersiapkan bekal terbaik bagi kepulangan yang terbaik dan diridhoi…..
Semoga Allah senantiasa memberi kemudahan, dan selalu menghamparkan rahmat dan karunia disetiap detik perjalanan yang dilalui, bagi kehidupan dan kematian kita….Amiiin……Walahu’alam bi showab (^_^)……………
(Mia……dalam Lembaran Renungan di awal Muharam 1433 H)

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.