
SPIRIT DAKWAH DITENGAH “KETERASINGAN”
Sebagai pengembara
Waktu yang dimiliki hanya sesaat
Semua yang terhampar
Bukti KebesaranNYA
Haruskah manusia berpaling?
Tidak………..!
Allah telah memberi nikmat tak terhitung
Ya Allah jadikan hamba selalu bersyukur
Ya Allah, Engkau penggengam hati manusia
Jagalah selalu hati ini untuk selalu terpaut KepadaMu
Terangi jalan ini dengan CahayaMu
Tuntun kehidupan ini dengan petunjuk hidayahMu
Jadikan hati ini puas hanya dengan KeridhaanMu
Bismillahirrahmanirrahim
Katakanlah ,” Inilah jalan(agama)ku , aku dan orang-orang yang mengikuti ku mengajak (kamu)kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah , dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.
(QS: Surat Yusuf: 108)
Ruh dakwah yang terus bergerak, mengumpulkan energi untuk kemudian berotasi dalam dakwah, mengingat dakwah sebuah kewajiban yang diberikan kepada setiap manusia, dan memahami bahwa kehidupan merupakan bagian dari wakaf diri kepada Allah dan RasulNYA maka sudah selayaknya diproses untuk senantiasa terbingkai oleh upaya-upaya penghambaan diri kepadaNYA. Dalam proses perjalanan kehidupan, Allah akan melihat kesungguhan misi suci tersebut dengan memberi tarbiah kehidupan berupa ujian, sebagai latihan untuk bisa memahami dan meneguhkan azzam yang tertancap dalam diri sebagai bekal untuk mengemban amanah peradaban.
Sebuah gambaran bahwa dalam proses perjalanan kehidupan terkadang diluar hitungan-hitungan manusia, seorang langsung dihadapkan dengan medan dakwah sesungguhnya ada keterasingan dalam tanda kutip, istilah untuk memberi kesan berbeda, merujuk ke kamus bahasa Indonesia juga dijelaskan bahwa keterasingan berasal dari kata terasing, berarti“terpencil”, lantas “terpencil” dalam dakwah yang dimaksud seperti apa? Tentu “terpencil” dalam kontes ini hanya sebagai istilah yang dipakai untuk sebuah penggambaran ketika Allah memberi ujian antara idealita dan realitas berada pada titik berkebalikan maka disinilah bisa dimunculkan istilah “keterasingan” itu, menyikapinya dibutuhkan sebuah pemaknaan bahwa Allah akan terus membelajarkan dengan berbagai kondisi, sudah sunatullah seorang pejuang dakwah siap dengan berbagai kondisi.
Roda dakwah terus mengitari, dan menjadi kebutuhan hakiki, ibarat kereta, kita harus berada dalam gerbong dakwah itu, untuk sampai ke tujuan, Kalaupun tidak berada di gerbong itu logikanya secara otomatis akan digantikan dengan penumpang lain yang lebih layak ditampung dan dipilih oleh Allah. Semoga kita bisa menjadi pilihan Allah, dan terus memiliki misi besar bahwa kehidupan ini bisa diinvestasikan pada jalan Rabbani yang Allah sediakan untuk kita.sehingga terus berpacu dan membelajarkan diri di setiap kondisi yang ditemui, karena harga perjuangan berbanding lurus dengan optimalisasi usaha dan kerja dalam mencapai tujuan itu, Cukuplah Allah akan menilai setiap usaha dan kerja yang terus kita proses, Walahu’alam bishowab:-)


wow