“Diary Literasi” Sebagai Media Kreatifitas Pada Anak Sekolah Dasar

A. Menghidupkan Budaya  Literasi

“Kegiatan literasi  ini tidak hanya membaca, tetapi  juga  dilengkapi  dengan  kegiatan menulis  yang  harus  dilandasi   dengan  ketrampilan  atau  kiat untuk  mengubah, meringkas, memodifikasi, menceritakan kembali dan seterusnya”,  demikian penuturan Kepala  Badan  Pengembangan  dan Pembinaan   Bahasa  MENDIKBUD  dalam  rangka peluncuran  gerakan  literasi  sekolah  pada tahun 2015  silam.  Gerakan ini  sebagai bentuk  realisasi  dan  pengembangan dari   Permendikbud Nomor 21 Tahun 2015, yang  bertujuan  membiasakan dan memotivasi  siswa untuk  mau  membaca  dan menulis guna menumbuhkan  budi  pekerti. Dalam jangka panjang, diharapkan dapat menghasilkan  anak-anak yang  memiliki  kemampuan  literasi tinggi.

 (Foto : Dokumentasi Pribadi)

Semburat cahaya mentari menerobos daun jendela ditengah riuh anak-anak mencerup ilmu.  Binar-binar keceriaan terpancar dengan letupan semangat memenuhi  salah  satu sudut  ruang sekolah  dasar. Sekolah itu satu diantara ribuan sekolah yang tersebar di pelosok  nusantara tepatnya  berada di pesisir pulau Buton, Sulawesi  Tenggara. Sesekali tatapan akan berserobok dengan anak yang hanyut  dengan bacaannya. Senyum sumringah  kerap  mengembang oleh tingkah pola lucu  anak-anak  yang  berebutan buku bacaan. Ada juga yang enggan  membaca bahkan buku dibiarkan tergeletak sembari sesekali melirik sang guru agar memberi pemakluman, bahkan ada anak yang hanya sibuk bergadget. Begitulah sekelumit gambaran kondisi bangsa yang terus berjuang menghidupkan   gerakan  literasi.

.Ketersediaan buku anak-anak, keberadaan perpustakaan di daerah-daerah pelosok, terpencil, terluar, akses ke perpustakaan, tata kelola perpustakaan yang perlu  dimanage secara optimal, pemeliharaan buku-buku dari debu, termakan rayap atau berbagai  potensi kerusakan lainnya menjadi sebuah tanggung jawab moral untuk saling bersinergi dan bahu membahu mensukseskan gerakan literasi  sekolah  tersebut. Peluncuran gerakan ini telah memberi  angin  segar  pada  berbagai  kalangan  baik  para pendidik, berbagai  LSM,  pustakawan,  komunitas  baca,  pecinta buku, penggemar  sastra, penulis  dan  berbagai  elemen  masyarakat sebagai  perentas  terwujudnya  cita-cita mulia dalam menggiatkan  budaya literasi.  Kecenderungan generasi  Alfa  yang   sangat fasih dan multi tasting dengan berbagai  perangkat teknologi canggih  menjadi  sebuah corak tantangan baru dalam upaya  menyuburkan budaya literasi.  Bertebarannya  media sosial, kebisingan  berbagai  viral  media  yang  mampu mengalihkan perhatian dan  menghentak-hentak kesadaran, berjubelnya game-game, tontonan YouTube, tayangan  televisi  tanpa filterisasi yang mumpuni seakan  seperti magnet yang saling tarik  menarik mempengaruhi setiap derap langkah pertumbuhan generasi abad  ini.

Krisis  literasi  telah menghalau laju gerak kemajuan. Pergerakannya seperti tersendat oleh minimnya budaya  baca anak bangsa. Jika berkaca dari  negara-negara maju di dunia  seakan membuat kita tercekat oleh paparan hasil survey Organisation For Economic Cooperation and  Development (OECD) pada  tahun  2009 bahwa  budaya  membaca masyarakat  Indonesia  menempati  peringkat paling rendah  diantara 52 negara  Asia  Timur. Pada  tahun  2012  data  statistik UNESCO juga  menunjukkan  indeks minat  baca di Indonesia baru mencapai  0,001%  atau  dari   1000 orang  hanya  1 orang  yang minat  membaca.  Hasil  pantauan BPS  lewat survey 3 tahunan menguraikan  bahwa tingkat  minat  baca  anak-anak  Indonesia hanya 17,66% sementara  minat  menonton mencapai 91,67%.  Hasil  survey  pada  tahun  2015  dari  Programme  for International  Student  Assessment (PISA)  menyebutkan bahwa      kemampuan membaca siswa Indonesia menduduki  urutan  ke-69 dari 76 negara yang  disurvei.

Continue reading →

Iklan

Filosofi dari Sebatang Tebu

Tebu…….identik dengan tumbuhan semak yang tinggi menjulang. Sebatang tebu sering tampak di hamparan hijau perkebunan, tidak jarang tumbuh liar di antara berbagai spesies tanaman di hutan belantara, atau bahkan sengaja di pelihara pada area tertentu untuk pemenuhan kebutuhan baku gula bagi masyarakat. Tebu dapat tumbuh dimanapun, baik itu di lahan gambut, di atas tanah yang kering kerontang. Dimanapun tumbuhnya tebu tetaplah memberi manfaat bagi umat manusia. Tanaman tebu seperti halnya tanaman padi dengan filosofi ilmu akan ketundukan hati meski ilmu telah merangkak naik tetapi selalu menjadikannya rendah hati. Bertambahnya ilmu tidak lantas membuat seseorang semakin jumawa, tetapi justru sebaliknya pertambahan itu menyadarkan pada kekurangannya yang semakin membentang luas.

                                                          (Foto: Dokumentasi  Pribadi)
Batang tebu yang tumbuh menyelinap di tengah hamparan rerumputan, melihat bentuknya yang sangat sederhana, tidak berarti sesederhana proses pertumbuhannya. Meski berada di tengah semak belukar yang hampir saja tidak terjangkau oleh jangkauan penglihatan manusia toh tebu tetap berjuang keras untuk terus tumbuh hingga menghasilkan manfaat pada manusia yang membutuhkan gula. Yah Gula tanpa sebatang tebu tentu tidak dapat dihasilkan. Kebergantungan gula pada tanaman tebu tentu tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ketika melihat tanaman tebu dengan bentuknya yang sederhana, namun dibalik kesederhanaannya ia menyimpan manfaat yang luar biasa bagi kehidupan manusia. Gak bisa dibayangkan seorang manusia yang terserang kekurangan gula akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Tentu kebutuhan manusia terhadap gula juga harus proporsional, tidak serta merta kita menjadi penyuka segala makanan manis, atau sebaliknya.
Asupan gula dalam tubuh manusia juga harus berimbang tidak lebih atau kurang. Berlebih berarti resiko diabetes, kekurangan gula juga berpotensi hipoglikemia. Nah yang aman tentunya pada sikap proporsional dalam menyikapi segala sesuatu termasuk dalam urusan makanan. Yuk kita kembali ke inti pembahasan kita kali ini tentang filosofi dari sebatang tebu. Mengamati tumbuhan tebu yang tinggi menjulang, batangnya sederhana, tetapi dibalik kesederhanaan itu telah berjuang tumbuh untuk memberi arti dan bermanfaat pada kehidupan manusia. Manusia harus berkaca dan merenung, selayaknya dalam kehidupan harus bisa menumbuhkan sikap rendah hati, sebagaimana halnya tebu yang bisa tumbuh secara fleksibel. Tebu akan selalu tunduk pada ketentuan Sang Pencipta untuk hidup dimanapun sesuai takdirNya. Begitupun dengan manusia sudah seyogyanya harus bermanfaat pada sesama. Continue reading →

Spirit Pembangunan Kemaritiman Menuju Kemandirian Bangsa

img201609180947511(Foto: Dokumentasi  pribadi )

“Jales Viva Jaya Mahe” (Di Laut Kita Jaya)

“Nenek moyangku bangsa pelaut”, jargon yang sering menghiasi indra dengar kita bahkan saking familiarnya jargon ini sering dijadikan lirik lagu bagi anak-anak sekolah menemani keceriaan mereka ketika sedang bermain. Ruh kata-kata ini seperti mengalirkan energi spirit pada sebuah penghayatan tentang kata tanah air yang merujuk pada Indonesia, sebagai sebuah entitas nusantara yang patut di jaga, dilestarikan oleh seluruh komponen bangsa. Tanah air tidak hanya bersinggungan dengan keberlimpahan kekayaan bumi pertiwi yang menghampar di daratan. Potensi keberadaan air yang meliputi wilayah lautan dengan prosentase luas mencapai 70 % wilayah Indonesia menghampar dengan berbagai potensi kekayaan biota laut yang juga tidak bisa di anggap sepeleh. Pendek kata jika bangsa Indonesia mampu mengelola secara profesional segala keberlimpahan kekayaan dari daratan maupun lautan tentu saja Indonesia sudah berada pada level sebagai negara maju. Realita masih menghadapkan Indonesia pada pusaran negara berkembang sebagai eufemisme dari ketertinggalan Indonesia dibandingkan negara-negara kecil di dunia yang sudah mencapai kemakmuran.
Apapun predikat negara sangat membutuhkan sinergisitas dari berbagai komponen bangsa untuk saling menopang dalam mengawal berbagai kebijakan pembangunan nasional seperti yang dicita-citakan para pendiri bangsa ini. Pembangunan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mumpuni dalam kancah globalisasi yang tengah mencengkram kehidupan dunia abad ini. Sumber daya manusia sebagai penentu yang paling fundamental dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan. Tanpa sumber daya manusia yang mumpuni maka pembangunan akan “latah”, mudah tergerus dalam iklim kompetitif masyarakat dunia saat ini. Oleh karena itu peningkatan sumber daya manusia mencakup segala unsur konprehensif baik dari segi intelektual maupun integritas kebangsaan yang tercermin pada nilai-nilai luhur yang terdapat pada keunikan sifat dan karakter dari masing-masing individu. Ketika kita ingin mengembangkan sebuah konsep pembangunan kemaritiman maka seluruh komponen yang terintegrasi dengan bidang kemaritiman itu harus dipersiapkan secara matang termasuk sumber daya manusianya mulai dari level desa, kabupaten/kota, propinsi hingga ke pemerintah pusat.
“Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang terbesar di dunia, dengan sekitar 17.508 buah pulau yang membentang sepanjang 5.120 km dari timur ke barat sepanjang khatulistiwa dan 1.760 km dari utara ke selatan. Luas daratan negara Indonesia mencapai 1,9 juta km² dan luas perairan laut tercatat sekitar 7,9 juta km²” (Boston, 1996; Encarta, 1998, dalam Dr. Ir. Supriharyono,M.S, 2000). Luasnya wilayah laut Indonesia selalu identik dengan negara maritim. Sejak dulu lautan nusantara menjadi wadah transit bagi arus perdagangan dunia. Letak Indonesia yang berada di jalur persilangan dunia mampu menghubungkan antara jalur barat dan timur . Kapal laut secara tradisional mampu menavigasi perjalanan antar pulau, sehingga di beberapa titik kepulauan nusantara terkenal dengan kota-kota pelabuhan, sebut saja kerajaan Sriwijaya. “Selama beberapa abad Sriwijaya sebagai pelabuhan, pusat perdagangan, dan pusat kekuasaan, menguasai pelayaran dan perdagangan di bagian barat Indonesia Sebagian dari semenanjung Malaya, Selat Malaka, Sumatera utara, Selat Sunda, kesemuanya masuk lingkungan kekuasaan Sri Wijaya. Yang diperdagangkan di sana ialah tekstil, kapur barus, mutiara, kayu berharga, rempah-rempah, gading, kain katun dan sengkelat, perak, emas, sutera, pecah belah, gula dan lainnya”,(The hague, Martinus Nijhoff, 1962 dalam Sartono Kartodirjo, 1998).
Sematan Indonesia sebagai negara maritim dunia tentu sangat beralasan mengingat nenek moyang Indonesia selalu identik dengan bangsa pelaut. Suku Bugis terkenal sebagai pelaut ulung di nusantara. Terkenal mampu menaklukan laut bahkan sebagai petarung ulung kerap berhadapan dengan hempasan gulungan-gulungan ombak yang menggunung. Indonesia masih memiliki suku tradisional yang menetap di laut yang di sebut suku Bajo atau suku Bajau. Suku tradisional ini tersebar di berbagai wilayah pesisir Indonesia seperti di perairan Sulawesi Tenggara, kalimantan, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi selatan dan masih banyak lagi titik-titik wilayah pesisir laut yang di diami oleh suku tadisional ini. Kehidupan suku tradisional ini ada sebagian yang masih menganut kehidupan primitif, sebagian lainnya sudah bisa membuka diri dengan dunia lain di luar lingkup budaya tradisional mereka. Meskipun terbilang suku tradisional tetapi penghayatan mereka pada kehidupan laut tidak bisa di anggap seadanya dan tradisional. Suku ini sangat memahami kehidupan laut, mereka begitu menjaga ekosistem kehidupan laut juga menjaga kearifan lokal masyarakat yang hidup di wilayah pesisir. Continue reading →

Keluarga, Laboratorium Pengembangan Karakter Unggul Anak Di Era Gadget

Keluarga merupakan satuan terkecil dalam sebuah masyarakat, namun berperan besar menjadi katalisator pembentuk karakter unggul yang paling fundamental dalam tatanan kehidupan sebuah bangsa. Keluarga tidak hanya sebatas dipahami sebuah ruang inti antara ayah, ibu dan anak dalam menjalankan berbagai peran sosial kemasyarakatan, tetapi keluarga idealnya menjadi pencetus pengembangan karakter unggul pada setiap anak. Pendidikan adalah kebutuhan esensi pada setiap anak untuk belajar, berproses, berlatih dan mengembangkan berbagai potensi keunikan dan kecerdasannya. Tidak berlebihan jika pendidikan menjadi mata air pengkayaan kecerdasan intelektual, juga mengasah pembentukan karakter unggul dan nilai positif. Karakter positif dan unggul pada setiap warna kepribadian anak entah itu bertempramen sanguin, melankolik, kolerik, flegmatik, bergaya belajar auditory, kinestetik, visual,atau apapun itu tidak dapat dipisahkan dari upaya-upaya pembentukan dan pengembangan karakternya untuk menyemai kematangan spiritual,intelektual,dan emosional.
Kualitas pendidikan sebuah bangsa akan melahirkan sebuah kemajuan peradaban. Meskipun tidak bisa dipungkiri realitas di masyarakat kerap ditemui sebuah fenomena ketika seorang anak harus menempuh pendidikan di sekolah berlabel favorit, unggulan, internasional atau labelisasi sekolah terbaik lainnya di anggap bahwa sekolah dengan labelisasi terbaik tersebut menjadi satu-satunya jaminan mutu dan tidak ada satu lembagapun yang bisa melampaui institusi tersebut. Kita lupa bahwa sehebat apapun sistem pendidikan dalam sekolah berlabel terbaik sekalipun, tidak kemudian menggantikan fungsi dan peran keluarga sebagai pilar utama pembentuk karakter unggul anak. Dalam wadah yang bernama keluarga menjadi institusi pertama dan utama bagi seorang anak. Betapa tidak intensitas anak berada di lingkungan keluarga memiliki kuantitas yang lebih besar ketimbang di lembaga pendidikan formal lainnya, sehingga diharapkan secara kualitaspun bisa memberi pengaruh positif yang lebih besar. Pada usia keemasan anak menjadi peniru ulung dan segala yang terekam dalam memori menjadi “bank referensi” yang dipengaruhi oleh sebuah iklim pembelajaran dari sekolah pertama mereka yang bernama keluarga.
Institusi pendidikan formal dalam berbagai jenjang pendidikan dan wadah yang bernama keluarga memiliki peran dan fungsinya masing-masing. Sudah seyogyanya harus seiring sejalan, bukan untuk mensubtitusi tetapi untuk bersinergi dalam rangka pencerdasan intelektual dan pengkayaan karakter. Kemajuan zaman, hingar bingar teknologi menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan saat ini. Potret dekadensi moral mulai tampak terlihat, lunturnya karakter generasi muda seakan menambah catatan panjang akan persoalan serius bangsa yang sedang dialami saat ini. Dalam konteks ini tidak berarti anak harus “disangkar emaskan” atau disterilisasi agar terbebas dari perubahan zaman dan kemajuan teknologi. Warna-warni kehidupan dan dinamika perubahan zaman sudah tentu akan bersentuhan dengan episode kehidupan anak . Butuh kebijaksanaan dalam bersikap serta kesigapan dalam membekali mereka dengan imunitas yang kokoh agar ketika terpapar “virus” yang bisa melumpuhkan bahkan dalam tingkat akut dapat mematikan karakter unggul dan potensi-potensi kebaikan yang telah di anugerahkan oleh Sang Pencipta mereka telah memiliki penangkal yang sangat efektif untuk mengeliminir berbagai ujian yang menghadang ruang gerak mereka.
Tentu tidak pernah dinafikan keberadaan “virus-virus” yang cepat atau lambat bisa menggerogoti tatanan nilai dalam setiap diri anak. Berbagai “anti virus”pun harus dipersiapkan agar memiliki kekebalan yang memadai setara dengan gelombang zaman yang menyertainya. Selain keluarga yang berperan aktif dalam rangka pembentukan karakter unggul anak sejak dini maka institusi pendidikan formal juga diharapkan sebagai wadah pencerdasan spiritual, intelektual sekaligus proses mengasah kecerdasan emosional dalam membangun tatanan sosial di masyarakat. Keluarga sebagai core harus bekerja ekstra mengawal setiap fase pendidikan anak sesuai tahapan usianya. Imunitas menjadi penting agar dapat dilakukan berbagai langkah preventif untuk mengeliminir berbagai kerusakan akibat gelombang perubahan zaman terlebih lagi di era gadget yang serba terotomatisasi dengan teknologi, serba instan termasuk dalam hal belajar juga sudah diinstanisasi, terbukanya ruang-ruang komunikasi nyaris tanpa sekat, anak-anak begitu fasih dengan teknologi sehingga sadar maupun tidak, juga mempengaruhi gaya belajar mereka entah itu dalam institusi pendidikan formal maupun dalam keluarga. Continue reading →

Kemuliaan Seribu Bulan

Ramadhan menjadi bulan pendidikan jiwa  agar selalu dibasuh dengan upaya-upaya pembersihan noda kekotoran  yang mencengkram diri manusia.  11 Bulan berlalu penuh dengan carut-marut keegoisan duniawi  yang senantiasa membelenggu napas-napas keringkihan diri sebagai mahluk lemah, tempat terhimpun salah dan dosa.  1 bulan lamanya  Allah hadiahkan ramadhan dengan taburan pengampunan, magfirah, dan sarana penyucian diri agar kembali fitri, Allahpun memberikan ganjaran pahala berlipat ganda.  1 bulan lamanya ramadhan menjadi waktu yang teramat mahal untuk di sia-siakan. Begitu berharganya waktu sebulan ramadhan untuk mengisi detik demi detik dengan aktivitas kebaikan. Haruskah kita menyiakan anugerah waktu, kesempatan, kesehatan dan juga hidayah keislaman kita. Semua kembali ke hati nurani untuk menangkap setiap  rahmat dan karunia yang telah dilimpahkan pada manusia itu sendiri.

Pada bulan ramadhan yang penuh berkah dan  berlimpah pahala  Allahpun menyiapkan satu malam istimewa yang lebih baik dari  malam seribu bulan. Itulah malam lailatul Qadar. Mengerjakan amal pada malam lailatul qadar disetarakan dengan nilai seribu bulan yang jika dikonversi dalam tahun maka berjumlah 83 tahun. usia 83 tahun belum tentu bisa ditemui oleh manusia saat ini  jika berkaca dari standar usia rasulullah hanya sampai di titik 63 tahun, maka standar kaum  dari Rasulullahpun berkisar di titik itu.

“Pada  malam  itu  turun  para malaikat   dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya  untuk mengatur segala urusan ” (QS. 97:4)

Menurut  Tafsir At tabari  maksud dari ayat ini adalah para malaikat turun  dengan perintah dan izin  Allah SWT.  Untuk mengatur segala urusan  dan membawa ketetapan Allah  SWT pada tahun itu  bagi para hambaNya, seperti ketetapan rejeki, kematian dan lainnya. Selanjutnya  Allah SWT  menyebutkan  bahwa malam  kemuliaan itu  dipenuhi  dengan keselamatan yaitu  keselamatan  dari setiap kejahatan  mulai dari  permulaan malam itu sampai terbit fajar.  Demikinlah  Allah SWT  menjelaskan  tentang kemuliaan  malam seribu bulan  yang penuh dengan kesejahteraan  dan  keberkahan.   Semoga Allah limpahkan rahmatNya untuk memilih kita bertemu dengan malam kemuliaanNya. Amiiin.

Walahu’alam bi showab

Renungan Ramadhan 1437 H @Baubau

 

Pembelajaran Bahasa Jepang Dan Korea di Baubau Antara Booming Dan Skill ?

Naskah ini telah dikirim tertanggal 8 April di harian Sultra Kendari dalam rubrik Bahasa dan Sastra, tetapi baru dapat konfirmasi tanggal 21 Juni 2016 via email dari Harian Sultra berisi pemberitahuan bahwa tulisan ini telah di muat pada tanggal 18 juni 2016 tentu setelah melalui tahap editing dari pihak redaksi, Alhamdulillah senang rasanya ketika mendapat konfir dari pihak redaksi, jadi semangat terus untuk menulis. Awalnya saya berpikir naskah ini tidak di muat maklum interval waktu dari tanggal 8 April sampai 20 Juni 2016 saya tidak mendapatkan info apapun dari pihak redaksi harian Sultra. Di sisi lain ketika saya harus dihadapkan dengan rentang waktu menunggu konfirmasi dari pihak harian Sultra belum ada info sayapun berpikir untuk mengirim ke harian ini tertanggal 23 Mei 2016, meski berjudul sama tetapi ada sedikit data yang harus saya tambahkan ketika mengirim ke harian Baubau Pos, harian lokal di tempat tinggal saya langsung memuat secara bersambung dua hari kemudian tertanggal 25 Mei dan 26 Mei 2016 tanpa ada konfirmasi ke saya, pemuatan artikel saya ketahui ketika seorang teman dari kabupaten yang berbeda secara tak sengaja membaca berita harian lokal tersebut di kantornya, lalu menelepon saya dari info teman yang membaca koran Baubau Pos inilah saya ketahui artikel saya di muat.

Pembelajaran Bahasa Jepang Dan Korea di Baubau Antara Booming Dan Skill ?

Kota Baubau pernah menjadi tuan rumah pelaksanaan simposium internasional pernaskahan nusantara IX pada tahun 2005. Simposium berskala internasional ini menghadirkan narasumber yang berasal dari berbagai negara diantaranya Hiroko (Kurosaki) Yamaguchi dari Jepang, Chun Tai Hyun dari Korea, Jan Van Der Putten dari Singapura, Ding Choo Ming dari Malaysia, Irina R. Katkova dari Rusia. Beberapa narasumber dari Indonesia diantaranya berasal dari Universitas Haluoleo, Universitas Padjadjaran, Universitas Indonesia, Universitas Sriwijaya, Universitas Diponegoro, Universitas Udayana, Universitas Andalas dan lain-lain.

Terpilihnya Baubau sebagai tuan rumah pelaksanaan symposium internasional ke IX merupakan momentum yang sangat penting untuk lebih memperkuat posisi tawar kota Baubau ke kancah dunia internasional. Selain eksistensinya sebagai pusat ibu kota kesultanan Buton masa silam, dikenal sebagai pulau penghasil aspal di Indonesia, kota inipun  menjadi jalur strategis dalam percaturan budaya nusantara.

Momentum pelaksanaan symposium tersebut telah mengantarkan kota Baubau untuk membuka akses-akses kerjasama dengan negara lain. Negara Korea Selatanpun tidak menyia-nyiakan momentum tersebut, wacana mulai bersambut pada sebuah jalur kerjasama untuk saling mengeratkan hubungan antar negara. Nota kesepahaman mulai digulirkan dalam bentuk sister city antara kota Baubau dengan Korea Selatan. Berbagai bantuanpun mulai dikucurkan begitupun pembelajaran Bahasa Korea mulai diinisiasi atas nama kerjasama antar negara serta pertukaran budaya. Gagasan membangun kerjasama dengan Korea telah ditindak lanjuti lebih intens sehingga menghasilkan berbagai kesepakatan diantaranya bisa disaksikan banyaknya papan informasi bertuliskan Volunter Hangul sebagai indikator bahwa lembaga tersebut telah terhubung dengan pihak Korea. Tak tanggung-tanggung Korea pernah mengirimkan seorang Profesornya ke lembaga pendidikan formal di Baubau sebagai instruktur pembelajaran bahasa Korea yang melakukan pendekatan pembelajaran edukatif kebahasaan secara intens. Begitupun sebaliknya beberapa tenaga pendidik yang terekomendasi dan berpotensi serta bisa diberdayakan dalam ranah pembelajaran Bahasa Korea segera dikirim ke negeri Kimchi untuk “dicharger” dan mendalami bahasa dan budayanya secara langsung. Pada gilirannya pasca kepulangan para pendidik yang terekomendasi itu maka geliat pembelajaran bahasa Korea mulai booming. Korea di akhir dekade ini mulai memperlihatkan “taring” dan tentu saja segala kemampuan dikerahkan untuk bekerja keras “menginternasionalkan” negaranya. Upaya-upaya tersebut bisa dicermati dari berbagai serbuan produk-produk Korea yang mulai menguasai pangsa pasar dunia sebut saja Samsung.

Brand Samsung sebagai icon teknologi papan atas dari “negeri setenang pagi hari” itu selalu mendapat tempat istimewa dari pemerhati teknologi maupun konsumen. Belum lagi trend fashion ala Korea yang menjadi trendsetter, pola pikir, gaya hidup, serta pola-pola konsumtif lainnya mulai merambah ke berbagai belahan dunia. Tak pelak tontonan-tontonan masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh gaya hidup K-pop, drama-drama Korea mulai di gandrungi, artis-artisnya jadi acuan idola baru dari anak muda yang funky dan gaul saat ini. Restoran-restoran Korea mulai terbuka dan diminati para penikmat kuliner. Universitas-universitas negeri yang membuka jurusan Korea mulai banyak peminat untuk belajar dan mendalami sastra Korea. Sebut saja Universitas Indonesia, Universitas Gajah Mada dan beberapa universitas lain yang membuka jurusan sastra Korea mulai dilirik. Korea berhasil melakukan akselerasi “branding” negaranya ke dunia internasional. Continue reading →

Belanda, Deru Kemajuan Dan Jejak Naskah Kuno

Belanda, berjulukan negeri Van Orange memiliki ikatan historis dengan Indonesia. Sejarah telah membuktikan negeri Tulip ini pernah menancapkan kuku-kuku kedigdayaan mencengram Ibu Pertiwi dengan politik adu domba. Rakyat Indonesia di lintas generasipun sepakat memberi predikat   pada negara ini sebagai penjajah. Selama kurang lebih 3,5 abad Indonesia hidup di bawah kungkungan bangsa Belanda yang mengeruk berbagai hasil bumi   mulai dari barat Indonesia sampai wilayah timur seperti Maluku, Ternate, Tidore, Buton dan lainnya serta   menyengsarakan rakyat pribumi saat itu. Masa penjajahan fisik telah berlalu dan tentu menyisakan berbagai kenangan buruk bagi rakyat Indonesia yang mengalami masa-masa penjajahan sebelum kemerdekaan.

Seiring perjalanan waktu yang melintasi berbagai episode sejarah maka eksistensi Indonesia dalam percaturan dunia internasional dituntut turut andil membangun hubungan diplomatik ke berbagai belahan dunia, tak terkecuali dengan Belanda yang menjadi bagian dari masyarakat dunia. Hal ini mendorong Indonesia mempererat hubungan diplomatik dan bekerjasama dengan bangsa-bangsa di dunia kecuali bangsa Israel yang sepanjang sejarah selalu berstatus sebagai bangsa perampas nilai-nilai kemanusiaan tak terperi. Peperangan dan pertikaian kerap melanda dunia, begitulah kehidupan seperti dua sisi yang senantiasa akan dipergilirkan, ada peperangan juga ada kedamaian. Sejarah selalu menggambarkan setiap negara di dunia berpotensi menjadi negara penjajah dan terjajah.

Belanda dikenal negeri kincir angin. sangat menakjubkan dengan keindahan bunga Tulip. Keberadaan taman bunga Keukenhof telah diabsahkan sebagai salah satu taman bunga terbesar dan terindah di dunia. Berbagai warna dan keindahan akan mudah disaksikan di taman bunga ini. Bunga Tulip yang merupakan bunga khas negeri kincir angin telah dikembangbiakkan dalam berbagai varietas menjadi komoditas ekspor unggulan non pangan. Bentuk negara Belanda sebagai kerajaan, minimnya wilayah daratan membuat Belanda berlimpah air dan tentu sangat rentan terkena banjir. Keberadaan daratan . di bawah permukaan laut mengharuskan dibuatnya kincir angin untuk memompa air dari dataran rendah ke dataran yang   lebih tinggi. Continue reading →

Lembaran Arsip Sebuah Rekam Sejarah

Lembaran arsip memegang peranan penting bagi sejarah sebuah bangsa. Keberadaan arsip tidak hanya tertuju pada sebuah bangsa tetapi juga arsip untuk sebuah komunitas, organisasi, perusahaan, lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan, individu atau siapapun yang telah mendokumentasikan setiap peristiwa lalu di abadikan dari masa ke masa sehingga dapat diketahui oleh generasi setelahnya.
Arsip tidak hanya dipahami kertas lusuh, berdebu, berwarna buram,atau kecoklatan dimakan usia,dan nyaris jadi santapan rayap yang berjejer di rak-rak penyimpanan serta dimuseumkan sebagai koleksi sejarah. Atau dipahami dalam konteks abad digital seperti sekarang sebagai kumpulan file date base yang tersimpan rapi di ruang memori sebuah komputer atau alat penyimpan digital lainnya yang juga rentan terkena virus.
Lembaran arsip utamanya arsip yang berkaitan dengan sejarah merupakan bukti otentik setiap rekam jejak perjalanan bangsa. Dokumen inipun memiliki nilai historis yang wajib dijaga kelestariannya oleh segenap komponen bangsa, sebab akan menjadi memori kolektif yang di wariskan ke setiap generasi. Menjaga dokumen arsip berarti memahami kesinambungan sejarah untuk memelihara wujud nasionalisme Indonesia dari generasi ke generasi.
Lembaran arsip tidak pernah lepas dari aktivitas tulis menulis. Pada zaman prasejarah lukisan dan gambar menjadi penanda awal dikenalnya bahasa tulis. Para seniman zaman prasejarah mulai mengenal sebuah sistem tulisan berbentuk gambar (Pictographic Writing). Orang Sumeria pada tahun 3000 Sebelum Masehi juga diperkirakan telah mengawali pengembangan sistem tulisan ini. Continue reading →

Tanabata Dan Seorang Kakek Jepang


Festival Tanabata? Bagi yang bergelut dengan dunia Kejepangan Tanabata akan mengingatkan dengan musim panas sebuah siklus   peristiwa alam dalam putaran setahun dari 4 musim yang melintasi Jepang   yaitu musim dingin, musim semi, musim panas dan musim gugur. Tanabata telah dirayakan oleh orang Jepang sejak zaman Edo (1603-1867). Tanabata atau biasa diisitilahkan dengan Festival Bintang merupakan salah satu perayaan yang tidak hanya dikenal di negeri Samurai, tetapi di negeri seribu pagoda dan negeri Kimchi pun mengenal perayaan ini untuk menyemarakkan festival musim panas. Orang Jepang secara umum akan menyambut festival tanabata dengan penuh suka cita.

Merayakan festival ini , nuansa kemeriahannya begitu terasa di berbagai belahan kota di Jepang. Perayaan Tanabata menjadi momen spesial dan selalu ditunggu-tunggu kedatangannya oleh penduduk seantero Jepang. Beberapa legenda yang melatar belakangi kisah-kisah seputar festival tanabata. Bintang Altair (Si Penggembala) dan bintang Vega (Si penenun) merupakan dua buah bintang yang berada di ujung rasi Bhimasakti menurut legenda China dan campuran kepercayaan Jepang.   Kedua bintang tersebut bertemu setahun sekali pada bulan Juli, bertepatan dengan musim panas. Suasana bulan Juli di Jepang dipenuhi kerlip warna-warni potongan kertas lima warna, kerap tampak berhias origami-origami unik, dipasang pada cabang-cabang pohon bambu menghiasi sudut-sudut ruang atau tempat-tempat umum yang mudah disaksikan oleh khalayak ramai.

Biasanya orang Jepang akan menuliskan berbagai cita-cita dan harapan pada lembaran-lembaran kertas berwarna warni yang tertancap di cabang-cabang pohon bambu. Pohon bambu selain menjadi pohon yang bermanfaat pada lingkungan juga bisa dimodifikasi sebagai tanaman hias atau bisa diproduksi menjadi hasil kerajinan tangan bernilai seni tinggi. Keunikan pohon bambu di Jepang menginspirasi pengembangan salah satu tempat wisata unik di Jepang bernama Arashiyama. Tempat ini adalah hutan bambu yang merupakan salah satu obyek wisata menarik di Jepang, tepatnya berada di Kyoto. Dengan menonjolkan keunikan tanaman bambunya pada area yang sangat luas. Rimbun-rimbun daun di atas pebukitan menambah kesegaran bagi pengunjung obyek wisata ini, selain bisa menikmati salah satu sudut lain keindahan kota Kyoto.

Tanabata merupakan festival yang begitu istimewa bagi masyarakat Jepang. Lalu apa hubungan seorang kakek Jepang dan Tanabata dalam tulisan ini? Suasana kemeriahan festival Tanabata tampak jelas dari berbagai sudut ruangan di perpustakaan Japan Foundation Jakarta, salah satu lembaga nirlaba yang konsen pada kemajuan pendidikan Jepang di Indonesia. Seperti halnya di Jepang maka semua lembaga Jepang yang ada di luar negeri termasuk Indonesia akan terbawa suasana perayaan seperti di negeri asalnya.

Dikeheningan suasana perpustakan dan semarak kertas warna warni yang terpampang dibeberapa sudut ruang menyambut perayaan Tanabata. Seorang kakek sudah sangat sepuh hanyut diantara tumpukan buku-buku tebal. Usianya berkisar   75 tahun lebih menurut perkiraan, saya tidak menanyakan langsung kepada beliau karena menanyakan umur bagi orang Jepang merupakan hal yang sangat sensitif dan bersinggungan dengan norma kesopan santunan yang dianut oleh budaya dan masyarakat Jepang. Continue reading →

Umbra, Fenomena Semesta

Indonesia, negeri yang dilintasi garis katulistiwa baru saja mengalami fenomena dahsyat alam semesta sebagai bukti kebesaranNya. Gerhana matahari yang terjadi pada tahun 2016 hanya di beberapa titik yaitu di lautan Hindia dan Pasifik. Indonesia menjadi satu-satunya negara di wilayah daratan di dunia, yang mengalami gerhana matahari total. Kenyataan ini membuat banyaknya para peneliti astronomi atau kebumian, bahkan pelaku pariwisata dan para pelancongpun berbondong-bondong mengunjungi Indonesia untuk menyaksikan fenomena alam yang sangat langka ini. Bagi para peneliti, fenomena alam seperti ini menjadi obyek riset yang harus dieksplorasi untuk meningkatkan wawasan dan memperkaya referensi baru dalam khasanah bidang keilmuan mereka. Bagi para pelaku wisata maupun wisatawan, fenomena alam gerhana matahari total menjadi obyek keindahan yang tidak pernah terlewatkan untuk  diabadikan.

Gerhana matahari total pernah terjadi, ketika saya masih kecil, tidak banyak yang diketahui tentang gerhana matahari total saat itu. Memori masa kecil hanya merekam bahwa gerhana identik dengan gelap gulita dan resiko kebutaan. Menurut cerita yang pernah di dengar dari lisan nenek, ketika itu ada larangan keluar rumah karena sangat membahayakan, membuat sebagian besar masyarakat sangat khawatir dengan resiko kebutaan.  Memori masa kecil saya, belum begitu paham apa yang sesungguhnya terjadi. Pertanyaanpun kerap terulang “kenapa kita tidak bisa keluar rumah, apa yang terjadi?”. Meski sang nenek mengulang-ulang penjelasan tentang dampak gerhana matahari yang beresiko pada kebutaan. Pemahaman saya ketika itu belum menjangkau esensi jawaban itu.

Seiring perjalanan waktu cerita yang selalu terulang itu, mulai tertangkap satu per satu, terus dan terus terulang membuat memori bisa merekam secara utuh tentang peristiwa gerhana matahari yang pernah terjadi. Masih jelas terekam cerita masa kecil, ketika terjadi gerhana, berbagai persiapan harus dilakukan seperti menyiapkan amunisi berupa makanan untuk mengantisipasi kondisi selama terjadi gerhana. Celah-celah rumah harus ditutup rapat agar cahaya tidak menerobos. Orang-orang di kampung saya tidak ada yang berani keluar rumah. Nenek tidak menjelaskan berapa lama durasi gerhana yang terjadi ketika itu. Pada tahun 2016 ketika pemerintah mengumumkan tanggal 9 maret 2016 akan terjadi gerhana matahari ingatan saya seperti mundur ke belakang, seakan sejenak kembali ke rekaman masa silam saat masih kecil.

Rasa khawatir akan resiko kebutaan turut membayangi, bersyukur pemerintah saat ini telah dapat mengedukasi masyarakat tentang peristiwa gerhana matahari total, berikut berbagai dampak yang ditimbulkan, sehingga masyarakat bisa tenang menghadapi peristiwa langka dalam periodisasi siklus peristiwa alam itu. Pemerintah memberi ruang yang seluas-luasnya kepada peneliti kebumian dari berbagai negara untuk ikut ambil bagian pada sebuah peristiwa dahsyat yang terjadi di Indonesia. Begitupun dengan dunia pariwisata yang menjadikan moment gerhana sebagai peluang untuk menambah devisa negara. Saya membaca beberapa literatur tentang gerhana matahari, dari berbagai sumber dan sudut pandang yang ditemukan telah memberikan pencerahan tentang peristiwa gerhana matahari tersebut. Gerhana matahari total jika di sikapi dengan baik tidak akan beresiko pada kebutaan.

Menurut badan meteorologi dan geofisika pada tahun 2016 ini, ada 12 daerah yang terkena gerhana matahari yaitu Bangka, Belitung, Palembang, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Luwuk,Palu, Poso, Ternate, Tidore, Halmahera. Gerhana matahari yang melintasi Indonesia tepat tanggal 9 Maret 2016, merupakan fenomena alam yang jarang terjadi, menurut prediksi dari hitungan-hitungan kasar manusia setiap daerah hanya sekali dalam 300 tahun mengalami gerhana matahari total. Diprediksi gerhana matahari total kembali melintasi Indonesia pada tahun 2023. Secanggih apapun hasil riset dan perkembangan teknologi kemajuan manusia toh Sang Pencipta adalah segalaya yang berkuasa dan berkehendak mengatur bumi ini.

Matahari merupakan salah satu dari 200 bintang bima sakti. Meskipun 325.599 kali lebih besar dari bumi. Di hamparan alam semesta, matahari merupakan bintang kecil. Matahari berjarak 30.000 tahun cahaya dari pusat bimasakti, yang berdiameter 125.000 tahun cahaya. (1 tahun cahaya = 9.460.800.000.000 km). Pentingnya matahari dalam sebuah siklus kehidupan. Sinar matahari menjadi sumber vitamin D bagi manusia. Cahaya matahari yang memancar ke bumi dapat menjaga keseimbangan sebuah proses fotosintesis. Bisa dibayangkan dalam beberapa menit saja matahari berhenti bersinar maka sudah dipastikan bumi dan mahluk hidup di dalamnya akan membeku, tidak ada lagi kehidupan. Sungguh Sang Pencipta berkuasa mengatur dengan cermat segala keseimbangan di alam ini. Juga berkuasa menunjukkan segala kekuasaannya lewat fenomena alam yang dahsyat agar manusia selalu berpikir mengambil pelajaran dari setiap peristiwa alam tersebut.

Gerhana matahari total sebuah kondisi yang terjadi ketika bulan berada diantara bumi dan matahari, di tengah-tengah bayang-bayang itu disebut umbra yaitu bayang-bayang bulan bergerak melintasi bumi, dan bulan menutupi cahaya matahari secara menyeluruh, peristiwa semua cahaya matahari yang terhalang oleh bulan ini, secara seketika terjadi perubahan menjadi gelap. Biasanya orang-orang yang berada di jalur umbra dapat melihat gerhana matahari total. Orang-orang yang dapat melihat gerhana penuh maka mereka sedang berada di jalur umbra karena matahari tampak menghilang tertutup oleh bulan. Jalur penumbra ketika sebagian gerhana matahari yang tampak dan sebagian lainnya masih nampak sinar matahari. Secara sederhana perbedaan dari umbra dan penumbra adalah orang-orang yang berada di jalur umbra akan menyaksikan gerhana matahari secara total, sedangkan orang-orang yang berada di jalur penumbra akan mengalami gerhana matahari sebagian, sedang sinar matahari sebagian masih tetap terlihat.

Umbra menjadi sebuah fenomena semesta. Ketika proses peralihan dari gerhana matahari total, dimana saat itu bulan menutupi seluruh cahaya matahari sehingga keadaan menjadi gelap. Pada proses pergeseran dari gelap ke munculnya cahaya matahari, harus diperhatikan agar terhindar dari pantulan cahaya matahari yang sangat kuat dan silau. Pada proses peralihan inilah pupil mata kita semakin melebar, sehingga akibat paparan sinar matahari yang sangat kuat dapat merusak retina yang berdampak pada kebutaan. Kerusakan retina akibat terpapar sinar matahari pasca gerhana matahari total kerusakannya bersifat permanen. Inilah yang dikhawatirkan, oleh karena itu disarankan bagi yang melihat gerhana matahari total harus memakai alat proteksi khusus yang bisa menjadi filter mata ketika melihat gerhana matahari total secara langsung seperti kacamata gerhana, teleskop atau alat lainnya yang sudah terstandarisasi keamanannya. Continue reading →